Tapi, apakah pertemuan itu akan benar-benar terlaksana? Situasinya tidak semudah itu. Presiden AS Donald Trump sudah bersumpah bahwa serangan bom ke rezim ini akan terus berlanjut. Risikonya sangat tinggi. Jadi, keberanian mereka untuk berkumpul di tengah ancaman masih jadi tanda tanya besar.
Di sisi lain, proses seleksinya sendiri punya kriteria ketat. Konstitusi Iran sudah mengatur syarat-syaratnya. Calonnya harus laki-laki, tentu saja seorang ulama. Dia juga harus punya kompetensi politik yang mumpuni, punya wibawa moral, dan yang paling penting: loyal tanpa syarat kepada Republik Islam.
Aturan-aturan ini, pada praktiknya, bisa ditafsirkan secara luas oleh Majelis Pakar. Banyak pengamat yang menduga, penafsiran itu akan digunakan untuk menyingkirkan calon-calon dari kalangan ulama reformis. Mereka yang punya gagasan tentang kebebasan sosial lebih besar atau ingin membuka hubungan dengan dunia luar, kemungkinan besar tak akan lolos.
Jadi, perjalanan mencari penerus Khamenei ini bukan sekadar prosedur. Ini adalah pertarungan menentukan masa depan Iran.
Artikel Terkait
Jadwal Salat dan Imsak untuk Denpasar, 2 Maret 2026
Israel Konfirmasi Serangan Rudal Iran, Ledakan Guncang Yerusalem
Frankfurt Tundukkan Freiburg 2-0, Naik ke Posisi Ketujuh Bundesliga
Trump Klaim Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran Akan Rampung dalam Empat Pekan