Soalnya, ancaman dari luar masih menggantung. Presiden AS Donald Trump sudah bersumpah bakal melanjutkan serangan. Mengadakan pertemuan besar dalam kondisi seperti ini jelas punya risikonya sendiri.
Di sisi lain, proses seleksinya sendiri tidak sederhana. Konstitusi menetapkan syarat ketat: calon harus ulama laki-laki, punya kompetensi politik, berwibawa, dan tentu saja loyal mati-matian pada Republik Islam. Aturan-aturan ini bisa saja ditafsirkan secara elastis oleh majelis. Misalnya, untuk menyingkirkan ulama reformis yang dianggap terlalu terbuka pada dunia luar atau mendukung kebebasan sosial.
Jadi, siapa saja nama yang kemungkinan muncul? Itulah yang sekarang jadi bahan perdebatan paling panas di kalangan elite Iran. Peralihan kekuasaan ini akan menentukan arah negara untuk dekade-dekade mendatang.
Artikel Terkait
Israel Konfirmasi Serangan Rudal Iran, Ledakan Guncang Yerusalem
Frankfurt Tundukkan Freiburg 2-0, Naik ke Posisi Ketujuh Bundesliga
Trump Klaim Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran Akan Rampung dalam Empat Pekan
Roma dan Juventus Bermain Imbang 3-3 dalam Drama Gol Beruntun di Olimpico