Di tengah keputusan pembatalan itu, ada juga yang masih bertahan. Dua maskapai nasional kita, Garuda Indonesia dan Lion Air, disebutkan belum terdampak konflik untuk operasi mereka yang melewati ruang udara Timur Tengah. Penerbangan ke Jeddah, misalnya, masih berjalan.
Tapi tetap ada penyesuaian. Penerbangan Garuda Indonesia menuju Amsterdam dialihkan rutenya melalui Kairo, Mesir. Langkah ini diambil demi satu hal utama: keselamatan.
Dudy menegaskan, aspek keamanan penerbangan adalah prioritas nomor satu. Kemenhub pun terus berkoordinasi ketat dengan Airnav Indonesia, maskapai, bandara, hingga otoritas penerbangan asing. Tujuannya jelas, memantau perkembangan situasi dan memastikan setiap penerbangan yang beroperasi tetap aman.
Kondisinya memang genting. Menurut Dudy, beberapa negara sudah mengambil langkah ekstra dengan menutup total ruang udaranya.
“Beberapa negara telah menutup ruang udara untuk semua kedatangan dan keberangkatan, baik penerbangan komersial maupun pribadi. Negara-negara tersebut antara lain Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah,” ungkapnya.
Dampaknya langsung terasa di bandara. Bagi para penumpang yang terjebak pembatalan, Dudy meminta maskapai dan pengelola bandara untuk sigap menanganinya. Prosesnya harus sesuai prosedur, mulai dari pembatalan dokumen di imigrasi, pengaturan akomodasi, hingga yang paling ditunggu: penjadwalan ulang penerbangan.
Artikel Terkait
Ledakan di Ponorogo Tewaskan Remaja 16 Tahun, Sejumlah Warga Luka-luka
Jadwal Salat 12 Ramadan 1447 H untuk Warga Medan
Timnas Hockey Indonesia Bidik Final Kualifikasi Asian Games 2026 di Oman
DPR Desak Pemerintah Ambil Langkah Konkret Lindungi WNI dan Perkuat Diplomasi di Tengah Eskalasi Timur Tengah