Sebagai bentuk duka, Pezeshkian mengumumkan tujuh hari libur nasional. Ini di luar masa berkabung nasional yang telah ditetapkan selama 40 hari.
Di sisi lain, situasi di lapangan memang mencekam. Serangan yang oleh Iran disebut sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan itu dikabarkan menghantam sejumlah titik vital. Tak hanya fasilitas pertahanan, target sipil di berbagai kota juga ikut menjadi sasaran.
Konfirmasi resmi mengenai kematian Khamenei baru keluar pada hari Minggu itu juga. Dan bersamaan dengan pengumuman duka 40 hari, gelombang kemarahan sudah mulai bergulir.
Garda Revolusi Iran, atau IRGC, langsung bersuara lantang. Mereka menyatakan operasi ofensif paling ganas dalam sejarah Republik Islam akan segera dimulai. Sasaran mereka jelas: wilayah dan pangkalan yang diduduki oleh apa yang mereka sebut sebagai "teroris Amerika".
"Operasi ofensif terberat dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai," kata korps elite itu dalam pernyataannya. Sumpah balas dendam untuk Khamenei bergema cepat, mengubah duka menjadi ancaman yang nyata.
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan
Persik Kediri Sambut Kembalinya Imanol Garcia Saat Hadapi Persis Solo