“Kalau setiap kebuntuan diplomasi dijawab dengan serangan militer, maka stabilitas global akan semakin rapuh. Ini preseden yang berbahaya,” tegasnya.
Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?
Belakangan ramai wacana agar Indonesia turun tangan jadi mediator. Dino menyambutnya dengan hati-hati. Menurutnya, langkah semacam itu perlu dikaji secara realistis. Mediasi dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar bukan main-main. Butuh kesiapan diplomatik matang dan modal kepercayaan dari semua pihak.
“Yang paling penting bagi Indonesia saat ini adalah menegaskan posisi secara jelas, tegas, dan konsisten terhadap prinsip perdamaian serta hukum internasional,” ungkapnya.
Prinsip bebas aktif, lanjut Dino, harus tetap jadi pijakan. Itu harga mati. “Kita tidak boleh kehilangan arah. Prinsip bebas aktif berarti kita berpihak pada perdamaian dan keadilan internasional, bukan pada kepentingan kekuatan tertentu.”
Setiap langkah diplomasi, ujarnya, wajib mempertimbangkan kepentingan nasional kita sendiri. Juga dampak jangka panjangnya bagi stabilitas kawasan.
Pandangan-pandangan ini diharapkannya bisa memicu diskusi publik yang sehat. Sebuah upaya untuk merumuskan sikap Indonesia di tengah dunia yang rasanya makin panas dan tak pasti.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Presiden Iran Sumpah Balas Dendam Usai Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan