Oleh: Lidya Thalia.S
Jakarta Suara Dino Patti Djalal terdengar serius. Mantan Wakil Menlu RI itu bicara dari London, menyoroti gelombang ketegangan baru antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran. Menurutnya, eskalasi kali ini berbau panjang. Dan dampaknya bisa menjalar jauh, mengganggu stabilitas kawasan bahkan dunia.
Yang bikin prihatin, semua ini terjadi di bulan Ramadan. Sasaran serangan? Sebuah negara dengan penduduk mayoritas Muslim. “Ini bukan sekadar konflik terbatas,” ujar Founder FPCI itu.
“Ada indikasi bahwa tujuan serangan kali ini bukan hanya membatasi kapasitas nuklir Iran, tetapi juga berpotensi melemahkan pemerintahan di Teheran.”
Pernyataannya itu diterima redaksi pada Minggu, 1 Maret 2026.
Kalau dinamika seperti ini terus berlanjut, Dino memprediksi berbagai instrumen akan dikerahkan. Politik, ekonomi, sampai keamanan. Dan Iran? Jangan harap mereka akan diam saja. Negeri itu punya jejaring yang luas.
“Artinya, konflik ini berisiko meluas dan melibatkan aktor-aktor lain di luar Iran dan Amerika Serikat,” jelasnya.
Di sisi lain, Dino menegaskan satu hal penting: penggunaan kekuatan militer harus tetap merujuk pada hukum internasional. Kegagalan di meja perundingan, dalam pandangannya, bukanlah alasan otomatis untuk menyerang.
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Presiden Iran Sumpah Balas Dendam Usai Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan