Jiwa revolusionernya ternyata sudah terpantik sejak remaja. Khamenei sering mendengarkan pidato Nawwab Safavi, seorang ulama pemberani yang vokal menentang kebijakan Shah. Nawwab akhirnya menjadi martir, tapi apinya terus membakar.
Pada 1962, ia resmi memilih jalan yang berisiko: bergabung dengan barisan pengikut Imam Khomeini. Saat itu, gerakan menentang rezim Shah yang dianggap pro-Amerika dan anti-Islam sedang memanas. Tanpa ragu, Khamenei mendedikasikan dirinya di jalan itu selama 16 tahun penuh gejolak, hingga rezim itu akhirnya tumbang.
Keberanian dan loyalitasnya tidak diabaikan. Imam Khomeini memberinya kepercayaan tinggi untuk sebuah misi rahasia: menyampaikan pesan dari Ayatollah Milani dan ulama lainnya tentang strategi mengungkap wajah asli pemerintahan Shah.
Namun begitu, perjuangan tentu tak mulus. Hidupnya diwarnai penangkapan dan pengasingan. Ia pernah mendekam berbulan-bulan di "Penjara Gabungan Polisi-SAVAK" di Teheran. Usai bebas, aktivitasnya dibatasi; ia dilarang keras memberi ceramah atau mengajar.
Belum cukup, ia kemudian diasingkan selama tiga tahun setelah kegiatan rahasianya terendus SAVAK. Tapi, semua itu justru mengeras tekadnya. Begitu bebas, ia langsung terjun kembali, terlibat dalam gelombang demonstrasi massal yang mengguncang Iran. Konsistensinya tak pernah padam.
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Presiden Iran Sumpah Balas Dendam Usai Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan