WASHINGTON DC – Langkah drastis Presiden Donald Trump benar-benar mengubah peta ketegangan global. Di tengah gebrakan "Board of Peace" yang ia usung, Amerika Serikat justru melancarkan operasi militer skala besar terhadap Iran. Operasi ini, yang diklaim sebagai upaya paksa perubahan rezim, dilakukan dengan koordinasi erat Israel. Banyak yang menyebutnya sebagai eskalasi paling serius di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003 silam.
Tak lama setelah serangan dimulai, Trump menyampaikan pidato nasional selama delapan menit. Isinya keras. Ia memberi ultimatum kepada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kekuatan AS, tegasnya, akan menghantam infrastruktur pertahanan, angkatan laut, dan kemampuan rudal Teheran jika otoritas Iran tidak segera menyerah.
Begitu kira-kira seruan Trump, seperti dikutip The Guardian. Pidato itu langsung menggema ke berbagai penjuru.
Di sisi lain, dukungan datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia mendukung penuh operasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan Israel penting untuk menghapus apa yang disebutnya "ancaman eksistensial" dari pemerintahan Teheran.
Namun begitu, reaksi internasional tidak semuanya positif. Langkah Trump ini menuai kritik pedas. Banyak yang menilai serangan itu mengabaikan piagam PBB, apalagi dilakukan tanpa konsultasi mendalam dengan Kongres AS atau publik. Yang menarik, ini semua terjadi hanya sepuluh hari setelah Trump meresmikan Board of Peace badan yang awalnya diusung sebagai forum perdamaian global. Ironis, bukan? Bahkan sekutu tradisional AS di Eropa pun terlihat tidak nyaman.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa pengamat mencoba membaca situasi dari kacamata yang lebih luas. Mereka mencium kaitan antara kebijakan luar negeri yang agresif ini dengan dinamika dalam negeri Amerika sendiri.
Artikel Terkait
China Kecam Serangan Militer AS-Israel ke Iran, Desak Penghentian Segera
Bandara Dubai Tutup Total Imbas Ketegangan Militer AS-Israel dan Iran
Menteri Pertahanan Iran Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Balas Serang Pangkalan AS
Festival Ramadan DPP Golkar Dihadiri Istri Menteri, Libatkan 284 Santri