Cak Imin Serukan Kesehatan Mental Jadi Agenda Strategis Nasional

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:15 WIB
Cak Imin Serukan Kesehatan Mental Jadi Agenda Strategis Nasional

Belakangan ini, kita sering dikejutkan oleh berita-berita pilu. Kasus bunuh diri pada anak dan remaja, misalnya. Bagi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, rentetan peristiwa tragis itu ibarat alarm yang berbunyi nyaring. Alarm darurat untuk bangsa ini.

“Sekali lagi, kesehatan mental harus jadi agenda strategis. Ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Pernyataan itu disampaikan dalam Dialog Solidaritas dan Partisipasi Publik di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Jumat (27/2). Acara yang mengusung tema 'Meningkatkan Ketahanan Psikososial sebagai Fondasi Pemberdayaan Masyarakat' itu menyoroti persoalan yang kian mengkhawatirkan.

Angkanya sendiri cukup mencengangkan. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan sekitar 28 juta orang di Indonesia bergulat dengan masalah kesehatan mental. Bukan angka sederhana. Ini cermin dari masalah yang ruwet dan berlapis.

“Ini menunjukkan adanya gunung es,” sambung Cak Imin. “Yang sangat mengkhawatirkan dan setiap saat bisa membesar, bisa bertambah parah.”

Menurutnya, gangguan kesehatan mental jarang datang tiba-tiba. Ia dipicu oleh banyak hal yang saling berkait. Tekanan ekonomi dan kemiskinan yang sudah mengakar, misalnya. Lalu ada juga lemahnya ikatan sosial di masyarakat, ditambah minimnya pemahaman dan dukungan psikologis di tingkat akar rumput.

“Itulah tantangan kita. Kita harus bergotong royong, mengatasi akibat sekaligus menyentuh pemicunya. Gangguan ini sifatnya kompleks,” tuturnya.

Karena itu, pendekatannya pun harus komprehensif. Bukan cuma mengobati luka di permukaan, tapi membongkar persoalan sampai ke akarnya. Caranya? Dengan memperkuat regulasi, memastikan anggaran tepat sasaran, dan membangun kolaborasi yang solid antara pemerintah dan elemen masyarakat lainnya.

Di sisi lain, Cak Imin mengingatkan bahwa membangun masyarakat bukan cuma soal menaikkan angka pendapatan. Kesejahteraan psikologis adalah fondasi yang tak boleh diabaikan. Mustahil membangun keberlanjutan jika mental masyarakat rapuh.

“Ketika masyarakat bertahan secara psikososial, mereka akan jadi pribadi yang tangguh. Kreatif. Dan pada akhirnya, menjadi kekuatan yang benar-benar berdaya,” tegasnya.

Dalam forum itu, ia juga menyampaikan apresiasi pada para pegiat dan akademisi, termasuk Ida Fauzia dari Universitas Indonesia. Pemerintah, lewat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), disebutnya terus berupaya memperluas akses layanan kesehatan jiwa.

Pidatonya ditutup dengan ajakan yang menggugah. “Hari ini, kita dituntut untuk bahu-membahu. Memastikan tidak ada seorang pun yang merasa sendirian memikul beban. Kita punya saudara, kita punya keluarga. Kita adalah satu kesatuan.”

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar