Gaza kembali berduka. Jumat dini hari, serangan udara Israel mengguncang wilayah tengah Gaza. Menurut laporan badan pertahanan sipil setempat, setidaknya dua orang tewas dan satu lainnya terluka dalam serangan itu. Badan tersebut, yang beroperasi sebagai tim penyelamat di bawah otoritas Hamas, menjadi saksi langsung dampak serangan tersebut.
Tak hanya di tengah, kekerasan juga merembet ke selatan. Tak lama setelah tengah malam, serangan drone dilaporkan menghantam kawasan itu. Kali ini, tiga nyawa melayang dan beberapa orang mengalami luka-luka. Jadi, total korban tewas dari dua insiden terpisah ini sedikitnya lima orang.
Ini adalah episode kekerasan terbaru yang mengoyak Gaza. Yang ironis, semua terjadi di tengah gencatan senjata yang sebenarnya sudah memasuki fase kedua bulan lalu. Gencatan itu sendiri dimediasi oleh Amerika Serikat, namun di lapangan, situasinya jauh dari kata damai. Israel dan Hamas saling menuding telah melanggar kesepakatan.
Militer Israel punya versi cerita yang berbeda. Mereka mengaku menyerang kelompok bersenjata Hamas di daerah Rafah, Gaza selatan, pada Jumat malam. Serangan itu disebut sebagai tanggapan atas "pelanggaran perjanjian gencatan senjata".
"Pasukan mengidentifikasi beberapa pasukan bersenjata yang muncul dari infrastruktur bawah tanah di Rafah timur," bunyi pernyataan resmi mereka.
Artikel Terkait
Menkominfo Tegaskan Perjanjian Data dengan AS Tidak Serahkan Data Warga
Indonesia Peringkat Kedua Dunia Kasus Campak, DPR Desak Kemenkes Siaga Penuh
Menteri Ghana Ungkap 55 Warga Negara Tewas di Ukraina Akibat Rekrutmen Ilegal Rusia
GAPKI Serukan Diplomasi Perdagangan Kuat Antisipasi Hambatan Ekspor