Prabowo Beri Sinyal Keras: Siap-Siap Dipanggil Kejaksaan

- Senin, 02 Februari 2026 | 14:20 WIB
Prabowo Beri Sinyal Keras: Siap-Siap Dipanggil Kejaksaan

Di hadapan ratusan pejabat pusat dan daerah, Presiden Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras. Isinya jelas: bagi pejabat negara, terutama pimpinan BUMN, yang terlibat korupsi dan merugikan keuangan negara, waktu mereka hampir habis.

"Saya katakan, pimpinan BUMN yang dulu harus tanggung jawab, jangan enak-enak kau," tegas Prabowo dengan nada tinggi.

"Siap-siap kau dipanggil kejaksaan."

Ultimatum itu disampaikan dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Senin (2/2) lalu, di Sentul International Convention Center, Bogor. Suasana ruang rapat langsung berubah hening sejenak.

Prabowo kemudian mengajak semua pihak menghentikan perilaku korupsi. Dia berpesan agar para pejabat ingat keluarga mereka, sebagai alasan utama untuk menjauhi godaan.

"Saya paling kasihan kalau saya lihat tokoh atau kawan diborgol, pakai baju oranye, kasihan anak istrinya. Sudah, lah," ujarnya penuh penekanan.

Dalam pidatonya, Presiden juga menyinggung soal pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Menurutnya, lembaga ini punya misi krusial: menyelamatkan dan mengamankan kekayaan negara yang nilainya hampir mencapai USD1 triliun. Sebelumnya, aset sebesar itu terpencar-pencar dan dikelola lebih dari seribu perusahaan BUMN.

"Bayangkan siapa yang bisa manage seribu perusahaan? Ini akal-akalan," ucapnya geram.

"Saya himpun semua kekuatan milik negara dalam satu pengelolaan."

Namun begitu, fokus utama pidato hari itu tetap pada penegakan hukum. Prabowo tampak ingin mematahkan anggapan bahwa ancamannya hanya retorika podium belaka. Dia menyindir langsung mereka yang mungkin meremehkan.

"Kan mereka ngejek, Prabowo hanya bisa ngomong di podium saja. Oh ya? Tunggu saja panggilan. Lu jangan nantang gue," tantangnya, disambut gemuruh tepuk tangan para peserta rapat.

Di akhir penyampaian, nada Prabowo sedikit berubah. Dari peringatan keras, beralih ke renungan yang lebih personal tentang hidup dan akhirat. Sebuah penutup yang cukup mengejutkan.

"Sudahlah, kita semua sebentar lagi dipanggil. Kalau dipanggil enggak sesuai nomor urut, senioritas. Belum tentu aku duluan. Bisa-bisa yang muda-muda," katanya.

"Jadi lebih baik berbuat kebaikan, lebih mulia."

Pesan terakhir itu seolah menjadi penekanan. Di balik kata-kata tegas dan ancaman hukum, ada ajakan untuk introspeksi. Sebelum panggilan dari kejaksaan benar-benar datang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler