Di Amerika, agenda utamanya adalah menghadiri Board of Peace di Washington D.C. Di sana, Prabowo bertemu Presiden AS Donald Trump. Pertemuan itu menjadi momen bagi Indonesia untuk kembali menegaskan dukungannya pada upaya perdamaian di Palestina.
Tak hanya itu, ada pula capaian di bidang ekonomi. Kedua negara menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kabar baiknya, kesepakatan ini membuka pintu lebar untuk 1.819 produk Indonesia termasuk sawit dan kopi masuk ke pasar AS dengan tarif nol persen.
Dari AS, perjalanan berlanjut ke Inggris. Di London, presiden menyaksikan penandatanganan kerja sama yang cukup strategis antara Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia dan perusahaan teknologi Arm Limited. Tujuannya jelas: mendorong penguasaan teknologi strategis di dalam negeri.
Namun begitu, fokus kemanusiaan tak terlupakan. Kunjungan ke Amman, Yordania, membuktikan hal itu. Dalam pertemuan dengan Raja Abdullah II, pembahasan difokuskan pada penguatan koordinasi untuk menangani krisis kemanusiaan yang parah di Gaza dan Tepi Barat.
Sebelum akhirnya pulang, Presiden menyempatkan diri mampir ke Abu Dhabi. Pertemuan dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan membahas penguatan kemitraan strategis, yang mencakup sektor-sektor vital seperti energi, investasi, dan ekonomi.
Jadi, rapat terbatas di Kertanegara itu bukan sekadar formalitas. Agendanya jelas: menindaklanjuti hasil-hasil diplomasi yang dibawa pulang dari empat negara tersebut.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Kejati Riau Geledah Kantor KSOP dan Pelindo Dumai Terkait Dugaan Tindak Pidana Kepelabuhanan
Trump Klaim Presiden Xi Jinping Setop Pengiriman Senjata ke Iran
TNI AU Gelar Bazar Murah di Makassar untuk Rayakan HUT ke-80
Kru Ambulans Dikerjai, Panggilan Darurat Dijadikan Modus Penagihan Utang