Kalau lagi ada festival seni di Denpasar, pasti ada satu spot yang antriannya mengular: Warung Rujak Mak Lemak. Rujaknya selalu habis ludes, jadi rebutan. Padahal, cuma warung biasa, tapi magnetnya luar biasa.
Rahasianya mungkin ada di penyajiannya. Bayangkan nampan besar, di tengahnya ada mangkuk sambal kental yang menggiurkan campuran gula pasir, gula merah, dan kacang giling. Rujak buah yang segar itu lalu dibungkus rapi dengan plastik wrap, dihiasi pita sederhana. Tampilannya jadi estetis, instagramable banget. Beda dari rujak abang-abang pada umumnya.
Dari Jualan Mulut ke Mulut
Pemiliknya, Ni Made Kembariani, mengaku awalnya cuma iseng. Ia merintis usaha ini sejak 2019, mulai dari jualan rujak salak ke kantor-kantor dan buah kiloan. Konsep "mukbang" atau makan beramai-ramai pakai nampan jumbo itu malah jadi daya tarik utama yang tak terduga.
“Awalnya cuma jual rujak salak ke kantor-kantor. Ada juga buah kiloan. Lama-lama merambah ke rujak buah seperti ini,” kenang Kembariani di warungnya di Jalan Padma.
Kini, dalam sehari ia bisa menjual 20 hingga 25 porsi rujak ukuran jumbo. Harganya Rp 100.000 per porsi, cukup untuk 10-12 orang. Menurutnya, ukuran besar ini justru banyak dicari.
“Ukuran jumbo sekarang lebih banyak dipesan dari kantor, komunitas, dan keluarga. Menurut mereka lebih hemat dan harganya terjangkau,” ujarnya.
Laris Manis Saat Hari Raya
Nah, untuk ukuran kecil (Rp 10.000) dan sedang (Rp 50.000), penjualannya bisa ratusan porsi per hari. Usahanya benar-benar melejit saat musim perayaan, seperti Natal dan Tahun Baru. Rujaknya bahkan naik kelas jadi hampers yang banyak dipesan pelanggan.
Artikel Terkait
Video Call Saat Nyetir, Seorang Perempuan Tabrak Lari Pekerja Jalan hingga Tewas
Pesta Miras di Tepi Sungai Berujung Tragis, Pemuda Tewas Terseret Arus
Masjid Kampus dan Ancaman Penjinakan Birokrasi
Deddy Corbuzier Bergerak, Siapkan Gerai Usaha untuk Kakek Penjual Es Gabus