“Kelompok industri tekstil, furnitur kayu, karet, serta berbagai produk IKM justru sangat diuntungkan,” jelasnya.
“Ini peluang besar untuk ekspansi ekspor dan penciptaan lapangan kerja.”
Lebih jauh, Faisol melihat langkah ini sebagai cerminan dari politik dagang yang cerdas dan berimbang ala Presiden Prabowo Subianto. Strateginya sederhana tapi tajam: membuka keran ekspor selebar-lebarnya sambil tetap menjaga benteng industri dalam negeri.
“Ini bukan sekadar perjanjian dagang biasa,” tegas Wamenperin.
“Ini bagian dari strategi besar menjadikan Indonesia pemain penting dalam rantai pasok global, termasuk industri teknologi tinggi seperti semikonduktor. Kita harus melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman.”
Jadi, narasinya jelas. Pemerintah berharap kerja sama ini menjadi batu pijakan. Bukan hanya untuk transaksi jual-beli, tapi untuk mengerek posisi Indonesia di panggung perdagangan global yang semakin kompetitif.
Artikel Terkait
Putin Sambut Prabowo di Kremlin, Soroti Arti Penting Kunjungan di Tengah Gejolak Global
Warga Malaysia Diserahkan ke Kejaksaan Terkait 99.600 Pil Happy Five di Dumai
Partisipasi Anambas di Popda Kepri 2026 Terancam Gagal Akibat Kekosongan Anggaran
DPR Tegaskan Tak Ada Akses Bebas bagi Pesawat Militer Asing di Ruang Udara Indonesia