“Kelompok industri tekstil, furnitur kayu, karet, serta berbagai produk IKM justru sangat diuntungkan,” jelasnya.
“Ini peluang besar untuk ekspansi ekspor dan penciptaan lapangan kerja.”
Lebih jauh, Faisol melihat langkah ini sebagai cerminan dari politik dagang yang cerdas dan berimbang ala Presiden Prabowo Subianto. Strateginya sederhana tapi tajam: membuka keran ekspor selebar-lebarnya sambil tetap menjaga benteng industri dalam negeri.
“Ini bukan sekadar perjanjian dagang biasa,” tegas Wamenperin.
“Ini bagian dari strategi besar menjadikan Indonesia pemain penting dalam rantai pasok global, termasuk industri teknologi tinggi seperti semikonduktor. Kita harus melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman.”
Jadi, narasinya jelas. Pemerintah berharap kerja sama ini menjadi batu pijakan. Bukan hanya untuk transaksi jual-beli, tapi untuk mengerek posisi Indonesia di panggung perdagangan global yang semakin kompetitif.
Artikel Terkait
Hillary Clinton Bantah Kenal Jeffrey Epstein dalam Dengar Pendapat Tertutup Kongres
Hayati Kamelia Ungkap Lelah Mental Dampingi Ammar Zoni di Kasus Narkoba
CT ARSA Foundation Apresiasi Bantuan Angkut 100 Ton Logistik Korban Bencana oleh TNI AL
Pemerintah Siapkan 10 Ruas Tol Baru Gratis untuk Mudik Lebaran 2026