Lalu, bagaimana dengan likuiditas? Menurut Farida Thamrin, Direktur Treasury and International Banking BRI, kondisinya sangat memadai. Rasio LDR di angka 91,4% dinilai masih memberi ruang yang sehat untuk ekspansi. Indikator likuiditas lain pun kuat: LCR 136,9% dan NSFR 117,7%, jauh di atas batas aman regulator.
Modal? Jelas kuat. CAR BRI mencapai 23,52%, jauh lebih tinggi dari ketentuan minimum. Ini sinyal bahwa kapasitas untuk berkembang dan menahan guncangan risiko masih sangat besar.
Kualitas Kredit yang Terjaga
Nah, ini yang sering jadi pertanyaan: bagaimana kualitas pinjamannya? Ternyata ada perbaikan. Loan at Risk (LAR) turun dari 10,7% menjadi 9,6%. Sementara NPL relatif terjaga di 3,07% angka yang cukup bagus mengingat portofolio BRI didominasi segmen UMKM yang sifatnya granular dan berisiko tinggi.
Pencadangan juga tak main-main. NPL coverage ratio BRI mencapai 178,1%, level yang sangat konservatif dan tentunya memperkuat kepercayaan investor.
Secara keseluruhan, fundamental BRI di tahun 2025 terlihat kokoh. Dengan kondisi ini, bank milik negara itu masih punya ruang cukup luas untuk terus mendorong kredit produktif dan, pada akhirnya, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Tantangan ke depan tentu ada, tapi setidaknya modal awalnya sudah solid.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan 10 Ruas Tol Baru Gratis untuk Mudik Lebaran 2026
Menteri PPPA Apresiasi Bareskrim Bongkar Sindikat Jual Beli Bayi Lintas Wilayah
KPAI Apresiasi Pengungkapan Sindikat Perdagangan Bayi oleh Bareskrim
Kondisi Korban Pembacokan UIN Suska Riau Mulai Membaik, Pelaku Berstatus Tersangka