Yang menarik, dari pemeriksaan diketahui bahwa otak intelektual operasi ini justru berada di luar negeri. “Para tersangka di Indonesia ini hanya operator lapangan. Mereka menjalankan perintah dan dikendalikan langsung dari China,” ungkap Himawan.
Masing-masing punya peran. WTP jadi operator utama SMS blasting sejak September tahun lalu. FN menyediakan jasa blast dan mengelola kartu SIM. RW membantu operasional. BAP bertugas sebagai operator sekaligus penyedia akun komunikasi. Sementara RJ, dia yang memasok kartu SIM terdaftar.
Untuk menjalankan aksinya, mereka menggunakan perangkat khusus bernama SIM box yang dikirim langsung dari China. Alat itu bisa melontarkan hingga 3.000 SMS phishing per hari. Dan semuanya dikendalikan dari jarak jauh.
“Tersangka di sini cuma membuka aplikasi untuk memantau. Kontrol penuh ada di luar,” tegas Himawan.
Imbalannya? Mereka dibayar bulanan dalam bentuk kripto USDT, berkisar antara 1.500 sampai 4.000 USDT per bulan tergantung jumlah perangkat yang dioperasikan. Dari penelusuran, total penerimaan mereka mencapai ratusan ribu USDT yang kemudian ditukar rutin ke rupiah.
Bukti-bukti yang berhasil disita cukup banyak: puluhan komputer, modem pool atau SIM box, ratusan kartu SIM, ponsel, dan berbagai perangkat pendukung lainnya.
Kini, kelima tersangka terancam hukuman berat. Mereka dijerat dengan UU ITE, UU Tindak Pidana Pencucian Uang, dan KUHP. “Ancaman maksimalnya 15 tahun penjara plus denda hingga Rp 12 miliar,” pungkas Himawan.
Polri mengingatkan kita semua. Jangan mudah percaya SMS dari nomor tak dikenal yang membawa tautan, apalagi yang mengatasnamakan instansi pemerintah.
“Cek ulang keaslian situsnya. Kalau ragu, konfirmasi langsung ke instansi terkait. Itu langkah paling aman,” imbau Himawan menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Higgs Games Indonesia Gelar Turnamen Domino Rp200 Juta di Surabaya 2026
Pria Tak Dikenal Ditemukan Tewas dengan Luka Leher di Sungai Mrican Jombang
Pemilu Peru 2026: Keamanan Jadi Isu Utama di Tengah Fragmentasi Politik
Bupati Tulungagung Ditahan KPK Diduga Peras Kepala Dinas untuk Beli Sepatu Mewah