Yos Nggarang tidak datang sendirian. Dia didampingi Kepala Kantor Wilayah Hukum Maluku, Saiful Sahri, serta tim dari Direktorat Pelayanan dan Kepatuhan Kementerian HAM wilayah Maluku. Kehadiran mereka secara bersamaan di ruang perawatan itu ingin menunjukkan satu hal: negara hadir.
Di sisi lain, percakapan langsung dengan NK menggambarkan penderitaan yang dialaminya. Tangannya, khususnya yang kanan, cedera berat dan mengalami patah tulang. Di balik kondisi itu, harapan remaja itu sederhana: ingin cepat pulih dan bisa kembali ke sekolah. Mendengar itu, siapa yang tidak trenyuh?
Tak lupa, dalam kunjungan yang sama, Yos Nggarang menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa yang mendalam kepada kedua orang tua NK dan mendiang AT. Rasa duka itu terasa nyata, bukan sekadar kata-kata protokoler.
Pada akhirnya, insiden di Tual ini meninggalkan bekas yang dalam. Kehadiran perwakilan Kementerian HAM setidaknya menjadi sinyal bahwa proses pemulihan dan penegakan hukum harus berjalan. Perlindungan dan pemenuhan HAM bukan jargon, tapi sesuatu yang harus dirasakan langsung oleh mereka yang paling menderita.
Artikel Terkait
Pemkab Bogor Siapkan 55 Bus Gratis untuk Mudik Lebaran dari Stadion Pakansari
Ledakan Bahan Peledak di Fasilitas Dekat Zurich Lukai Dua Orang
Casemiro Dilaporkan Pilih AC Milan Ketimbang MLS
Jadwal Imsak dan Salat Hari Ini untuk DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu