Jadi, pembagian perannya jelas. BGN urusan dapur dan gizinya, Kemensos urusan logistik terakhir dan pendampingan. Sinergi semacam ini diharapkan bisa menutup celah dan mempercepat distribusi.
Siapa yang akan dapat prioritas? Sasaran utamanya adalah lansia dan penyandang disabilitas yang datanya tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, khususnya mereka yang masuk dalam kelompok desil 1 hingga 5. Paling diprioritaskan adalah lansia rentan dan penyandang disabilitas berat mereka yang benar-benar kesulitan memenuhi kebutuhan gizi harian.
Di sisi lain, Prof. Dadan Hindayana menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, keberadaan SPPG yang rata-rata ada dalam radius 4 kilometer di berbagai wilayah akan mempermudah tugas Kemensos.
“Saya kira apa yang sebenarnya jadi tugas Mensos selama ini dengan hadirnya SPPG di setiap wilayah itu akan dipermudah,” kata Dadan.
Ia meyakini, dengan pembagian tugas yang tepat, proses dari dapur sampai ke meja makan penerima bisa berjalan lebih efektif dan efisien. “Jadi ini sinergi yang bagus mengoptimalkan fasilitasnya,” tegasnya.
Gus Ipul pun tak lupa mengucapkan terima kasih. “Terima kasih Prof Dadan, selama ini telah membimbing kami untuk menyusun satu konsep, sehingga ini sudah terintegrasi dengan MBG secara menyeluruh.”
Pertemuan yang digelar pada 25 Februari 2026 itu juga dihadiri oleh Sekjen Kemensos Robben Rico, serta sejumlah staf ahli dari kedua lembaga. Mereka berharap, dengan konsep yang kini sudah lebih rapi, program ini bisa segera diimplementasikan untuk menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Artikel Terkait
LPDP Masih Hitung Jumlah Pengembalian Dana Beasiswa dari Alumni yang Viral
SIM Keliling Kembali Beroperasi di Lima Titik Jakarta untuk Perpanjang SIM A dan C
Kartu Merah VAR untuk Kelly Picu Kekalahan Juventus di Liga Champions
Inisiator Papua Connection Kecam Serangan KKB terhadap Guru dan Tenaga Kesehatan sebagai Teror Kemanusiaan