"Kita berharap semakin banyak generasi muda yang datang dan belajar dari tempat ini,"
ujarnya lagi. Ia melihat situs yang sudah ditata dengan baik ini perlu terus diaktifkan. Caranya? Dengan menghadirkan beragam kegiatan.
Fadli membayangkan ruangan-ruangan itu diisi dengan kegiatan yang relevan. Pentas seni, baca puisi, diskusi budaya, atau sekadar jadi tempat nongkrong sambil menikmati kopi khas Bengkulu. Dengan sentuhan seperti itu, daya tariknya bagi kaum muda dan wisatawan pasti akan bertambah. Ia ingin situs ini hidup, bukan membisu.
Harapannya, tempat ini tak cuma dikenang, tapi benar-benar berfungsi sebagai ruang edukatif yang menginspirasi. Agar semangat perjuangan para founding fathers bisa dipahami dan diteruskan dalam konteks kekinian.
Dalam kunjungan itu, Fadli tidak sendirian. Ia didampingi sejumlah pejabat seperti Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Rachmanda Primayuda, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Iskandar, bersama jajaran pemda setempat. Mereka bersama-sama melihat peluang agar sejarah tak berhenti menjadi cerita, tapi jadi pengalaman yang hidup.
Artikel Terkait
Gus Ipul: Penerima Bansos Mulai Dialihkan Jadi Anggota Koperasi Desa
Pemerintah Genjot Pembangunan Huntap Korban Bencana Sumatera Melalui Skema Gotong Royong
AS Kerahkan Dua Kapal Induk ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Meningkat
Gubernur Jateng Akui Darurat Sampah Meski Raih Penghargaan Nasional