“Jika pengadaan dilakukan di dalam negeri, itu bisa membangkitkan industri otomotif, menyerap tenaga kerja, dan menciptakan efek berganda bagi ekonomi,”
ujarnya. Soal harga beli yang mungkin lebih murah, menurut Said, bukan jaminan efisiensi. Aspek jangka panjang seperti layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, dan jaringan bengkel harus jadi pertimbangan utama. Biaya perawatan yang mahal di kemudian hari justru bisa bikin anggaran jebol.
Intinya, bagi Said, pertimbangannya harus strategis. Bukan cuma soal angka di kontrak, tapi apakah kebijakan ini memperkuat fondasi industri nasional atau justru menggerogotinya.
“Lebih bijak jika langkah ini bukan hanya dipikir ulang, tetapi dibatalkan,”
tegasnya. Desakan itu menggema, menunggu respons.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Bonus Hari Raya untuk Ojol Kembali di Lebaran 2026
Korlantas Polri Siapkan Empat Klaster Pengamanan untuk Operasi Ketupat 2026
Presiden Prabowo Sambut Hangat dan Dengarkan Aspirasi Mahasiswa Indonesia di Yordania
PBB Sahkan Resolusi Serukan Gencatan Senjata dan Perdamaian Abadi di Ukraina