Gagasan konkretnya adalah membentuk 'Rumah Inovasi Daerah'. Bayangkan ruang itu sebagai tempat bertemunya kampus, komunitas, BRIDA, dan dinas terkait untuk merancang solusi nyata bagi masalah di masyarakat.
"Inovasi bukan gimmick," tegas Bima.
"Inovasi adalah fokus pada solusi. Inovasi harus ada nilai tambah. Inovasi harus terintegrasi pada sistem, bukan tempelan saja. Inovasi memberikan manfaat."
Lalu, bagaimana mewujudkannya? Bima mengusulkan sejumlah terobosan. Mulai dari blended finance untuk pendanaan riset daerah, jalur cepat adopsi teknologi, sampai memasukkan inovasi sebagai indikator kinerja utama ASN. Peran BRIDA dan BRIN diharapkan bisa menjadi penggerak utama di setiap OPD.
Pada akhirnya, pesannya jelas. Inovasi yang sudah melembaga adalah mesin pertumbuhan. Mesin itu tidak boleh mati hanya karena pemimpin daerah berganti. Berbagai indeks, termasuk IDSD, harus jadi pemicu kebijakan yang riil. Bukan sekadar laporan yang memenuhi rak arsip.
Artikel Terkait
Bus Transjakarta Tabrak Pengendara Motor di Gunung Sahari, Korban Luka Parah
Normalisasi Sungai Cirarab Ditargetkan Rampung Akhir Maret 2026
Vonis Kasus Korupsi Minyak Rp 285 Triliun Dijadwalkan Kamis Depan
Program Makan Bergizi di Serang Berlanjut, Siswa Terima Paket Bahan Makanan untuk Buka Puasa