Gagasan konkretnya adalah membentuk 'Rumah Inovasi Daerah'. Bayangkan ruang itu sebagai tempat bertemunya kampus, komunitas, BRIDA, dan dinas terkait untuk merancang solusi nyata bagi masalah di masyarakat.
"Inovasi bukan gimmick," tegas Bima.
"Inovasi adalah fokus pada solusi. Inovasi harus ada nilai tambah. Inovasi harus terintegrasi pada sistem, bukan tempelan saja. Inovasi memberikan manfaat."
Lalu, bagaimana mewujudkannya? Bima mengusulkan sejumlah terobosan. Mulai dari blended finance untuk pendanaan riset daerah, jalur cepat adopsi teknologi, sampai memasukkan inovasi sebagai indikator kinerja utama ASN. Peran BRIDA dan BRIN diharapkan bisa menjadi penggerak utama di setiap OPD.
Pada akhirnya, pesannya jelas. Inovasi yang sudah melembaga adalah mesin pertumbuhan. Mesin itu tidak boleh mati hanya karena pemimpin daerah berganti. Berbagai indeks, termasuk IDSD, harus jadi pemicu kebijakan yang riil. Bukan sekadar laporan yang memenuhi rak arsip.
Artikel Terkait
Sekretaris Kabinet Kritik Inflasi Pengamat yang Tak Berdasar Data
Otoproject Ekspansi ke Bekasi dan Serpong dengan Konsep Studio Modern
Jatim Libatkan 7.500 Relawan Santri dan Mahasiswa untuk Percepat Sertifikasi Tanah
Wamen Dalam Negeri Tinjau Penerapan WFH ASN Bekasi, Apresiasi Capaian 40 Persen