Aksi-aksi terbaru ini adalah yang pertama sejak gelombang demonstrasi besar beberapa bulan silam. Saat itu, aksi berakhir dengan penindakan brutal yang konon menewaskan ribuan orang. Unjuk rasa Desember lalu memang bermula dari keluhan ekonomi, tapi dengan cepat berubah jadi gerakan antipemerintah yang cukup serius salah satu ujian terberat bagi para pemimpin ulama di Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
Gelombang protes itu sempat menarik perhatian dunia, termasuk Presiden AS Donald Trump. Awalnya, dia mendukung penuh para demonstran dan tak segan mengancam akan turun tangan. Tapi ancamannya kemudian bergeser. Fokusnya beralih ke program nuklir Iran yang diduga Barat bertujuan militer.
Di sisi lain, meski Washington dan Teheran kembali duduk di meja perundingan, ketegangan tak serta merta reda. Trump justru meningkatkan pengerahan militernya di Timur Tengah. Langkah itu jelas dimaksudkan untuk memberi tekanan ekstra, mendesak Iran agar mau mencapai kesepakatan dalam negosiasi dengan AS.
Jadi, situasinya rumit. Di dalam negeri, pemerintah berusaha mengendalikan unjuk rasa dengan peringatan soal "garis merah". Sementara di luar, tekanan diplomatik dan militer terus mengintai. Semuanya berjalan berbarengan, menciptakan suasana yang tetap mencekam di kawasan.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok 12% pada Maret 2026, Catat Bulan Terburuk Sejak 2013
Presiden Prabowo Akan Temui Putin di Moskow Bahas Geopolitik dan Energi
Gaji Pensiunan PNS Masih Berpatokan pada PP No 8 Tahun 2024, Belum Ada Kenaikan
Jaecoo J5 EV Raih Gelar Mobil Listrik Terlaris Indonesia Maret 2026