Kampus-kampus di Iran kembali memanas sejak akhir pekan lalu. Unjuk rasa mahasiswa, baik yang pro maupun antipemerintah, kembali menyala di awal semester baru. Menanggapi gelombang protes ini, pemerintah Teheran akhirnya angkat bicara. Mereka mengakui hak mahasiswa untuk berdemonstrasi, tapi dengan satu catatan besar: ada batasan yang tak boleh dilangkahi.
Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, menyebutnya sebagai "garis merah".
"Hal-hal sakral dan bendera merupakan dua contoh garis merah yang tidak boleh dilanggar," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Selasa lalu.
"Yang harus kita lindungi dan tidak boleh kita langgar atau menyimpang darinya, bahkan di tengah kemarahan."
Mohajerani sendiri mengakui kemarahan para mahasiswa itu bisa dimengerti. Menurutnya, mereka punya luka di hati dan telah menyaksikan pemandangan yang tentu saja mengusik pikiran. Namun begitu, semuanya harus tetap dalam koridor.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok 12% pada Maret 2026, Catat Bulan Terburuk Sejak 2013
Presiden Prabowo Akan Temui Putin di Moskow Bahas Geopolitik dan Energi
Gaji Pensiunan PNS Masih Berpatokan pada PP No 8 Tahun 2024, Belum Ada Kenaikan
Jaecoo J5 EV Raih Gelar Mobil Listrik Terlaris Indonesia Maret 2026