Harga Emas Anjlok 12% pada Maret 2026, Catat Bulan Terburuk Sejak 2013

- Sabtu, 11 April 2026 | 18:15 WIB
Harga Emas Anjlok 12% pada Maret 2026, Catat Bulan Terburuk Sejak 2013

JAKARTA Maret 2026 menjadi bulan yang kelam bagi logam mulia. Harga emas anjlok hingga 12%, menyentuh level US$4.608 per troy ounce. Bukan cuma turun, ini adalah performa bulanan terburuk yang tercatat dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir, tepatnya sejak Juni 2013 silam.

Laporan World Gold Council (WGC) yang baru dirilis, berjudul "Anatomi Penurunan Harga Emas", mengonfirmasi hal ini. Pelemahan terjadi terhadap semua mata uang utama dunia. Meski begitu, kalau dilihat dari kaca mata tahunan, posisi emas sebenarnya masih di zona hijau. Masih ada pertumbuhan positif year on year.

Lalu, apa penyebabnya? Menurut model GRAM milik WGC, runtuhnya harga digerakkan oleh beberapa hal sekaligus. Momentum negatif, arus dana yang kabur dari ETF emas global, dan aksi lepas posisi atau 'long unwind' di bursa berjangka COMEX, semuanya berkontribusi.

Pemicu utamanya jelas: dana yang menguap dari ETF emas global. Sepanjang Maret, arus keluar mencapai angka fantastis, US$12 miliar atau setara dengan 84 ton emas!

Wilayah Amerika Utara memimpin 'eksodus' ini dengan kontribusi US$14 miliar (minus 87 ton). Eropa menyusul di belakangnya, meski angkanya jauh lebih kecil, sekitar US$0,1 miliar atau setara 7 ton.

Namun begitu, ceritanya jadi menarik di sisi lain dunia. Sementara investor di Barat sibuk menjual, para pemain di Asia justru melihat peluang. Bagi mereka, koreksi harga ini adalah momentum beli yang ditunggu-tunggu.

“Arus masuk di Asia mencapai US$1,9 miliar. Ini menjadi kontributor positif yang mencerminkan kuatnya minat beli di Asia meskipun tonasenya lebih kecil dibandingkan aksi jual di wilayah lain,”

Demikian bunyi kutipan laporan WGC yang dirilis Sabtu (11/4/2026).

Pasar derivatif juga ikut merasakan dampaknya. Posisi beli bersih investor di COMEX menyusut cukup signifikan, sekitar US$2 miliar atau 19 ton. Tapi jangan salah, di balik aksi ambil untung dan pembalikan tren yang masif ini, laporan itu mencatat sesuatu. Sentimen investor jangka panjang ternyata masih menunjukkan bias beli yang kuat. Mereka belum benar-benar kapok.

Faktor lain yang turut bermain adalah penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi yang merangkak naik. Keduanya seperti mempercepat tekanan pada daya tarik emas sebagai safe haven.

Pada intinya, WGC memandang volatilitas di Maret lalu sebagai gambaran nyata betapa sensitifnya harga emas. Perubahan arus modal global, terutama yang dipicu oleh pergeseran ekspektasi kebijakan bank sentral, bisa dengan cepat mengubah permainan. Emas, yang sering dianggap sebagai pelabuhan aman, ternyata tak luput dari terpaan badai di pasar keuangan.

Catatan: Berita ini disajikan untuk informasi, bukan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen investasi. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab penuh pembaca. Media ini tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar