Harapan serupa diungkapkan Iyeng, pedagang jus. Dia berharap bisa 'kecipratan' rezeki dari keramaian baru ini. Sayangnya, hingga saat ini harapannya belum sepenuhnya terwujud. "Pengennya mah pada jajan sih, beli es. Iya bisa kecipratan rezekilah," harapnya.
Dia bilang, baru segelintir pemain yang mampir. Padahal, menurut pengamatannya, lapangan-lapangan itu baru benar-benar ramai dalam dua bulan terakhir. Mungkin butuh waktu.
Di sisi lain, cerita sepi justru datang dari Nikmah, pemilik warung kopi. Lokasinya sebenarnya strategis, tepat di belakang satu lapangan. Tapi, anehnya, keramaian itu tak berimbas pada dagangannya.
"Rame sih, lumayan, rame," akunya tentang suasana sekitar. Lalu dia melanjutkan dengan nada sedikit masygul, "Tapi warung saya mah sepi."
Jadi, meski 'Kampung Padel' telah membawa denyut baru, dampak ekonominya bagi pedagang kecil ternyata tak seragam. Ada yang bersyukur, ada yang berharap, dan ada pula yang masih menunggu pelanggannya singgah.
Artikel Terkait
Pengendara Vellfire Aniaya Petugas SPBU Cipinang Gara-gara Ditolak Isi Pertalite
Antusias Warga Padati Program Hapus Tato Gratis Baznas DKI Jakarta
Menteri Agus Sidak Lapas Ciangir, Tinjau Lahan Pertanian Pasca Banjir
Wamen Bima Arya: Ekosistem Inovasi Daerah Kunci Hindari Middle Income Trap