Ramadhan di Tenda Bencana: Solidaritas yang Tetap Hidup di Tengah Runtuhnya Rumah

- Selasa, 24 Februari 2026 | 04:45 WIB
Ramadhan di Tenda Bencana: Solidaritas yang Tetap Hidup di Tengah Runtuhnya Rumah

Peumulia Jamee di Tengah Puing

Nilai ini, peumulia jamee, sudah mengakar. Menghormati tamu adalah kewajiban. Dan tradisi itu tak luntur, bahkan ketika bencana merenggut hampir segalanya.

Pengalaman itu dirasakan langsung saat berkunjung dari tenda ke tenda. Di Lhok Pungki, kursi-kursi seadanya diatur melingkar. Makanan yang mereka masak bersama dihidangkan. Di Dusun Sarah Gala, Aceh Timur, hidangan sederhana ikan balado, tempe, dan sup menunggu. Mereka tak mau menyentuhnya sebelum tamu mulai makan.

"Ayo, berbuka. Sudah azan," ajak seorang ibu yang memimpin dapur darurat, memecah rasa sungkan kami.

Nuansa serupa terasa di tenda pengungsian Dusun Bahagia, Aceh Tamiang. Saat sahur, seorang pengungsi bernama Siti Hasanah, atau Nur Lamek, menggelar satu-satunya karpet miliknya. Di atasnya, ia hidangkan nasi, dua potong daging, dan segelas teh manis untuk tamu. Ia sendiri duduk di lantai.

"Maaf harus sempit-sempitan," ujarnya. "Karpet kami hanya satu."

Sungguh, rasa sungkan itu memenuhi kepala. Bagaimana mungkin mereka yang seharusnya menerima bantuan, justru mendahulukan kami? Melihat keraguan di wajah tamunya, Nur Lamek punya jawaban yang menenangkan.

"Ketika orang bersedekah untuk kami, kami juga bersedekah lagi untuk orang. Kan, itu lebih baik," katanya dengan tenang.

Perjalanan itu mengajarkan satu hal. Kemegahan hari raya tak selalu soal pesta atau baju baru. Terkadang, kemegahan itu justru lahir dari kesederhanaan yang tulus. Dari secangkir teh yang dibagi, dari sepotong lauk yang dipersilakan, di atas karpet lusuh di tenda pengungsian.

Di sanalah, di tengah segala yang hilang, kasih sayang itu tak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, dan justru bersinar lebih terang.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar