Jakarta bakal ramai lagi. Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 yang rencananya digelar pertengahan tahun ini, wacana tentang siapa yang akan memimpin organisasi besar itu pun mengemuka. Kali ini, Institut Nahdliyin Nusantara atau Insantara ikut menyodorkan peta kekuatan. Mereka merilis setidaknya 14 nama yang dinilai punya peluang besar untuk memimpin PBNU ke depan.
Wildan Efendy, peneliti dari Insantara, membeberkan bagaimana daftar itu disusun. Menurutnya, pihaknya tak asal comot nama. Ada tiga pertimbangan utama: seberapa populer tokoh itu di kalangan warga NU, rekam jejak karir organisasinya, plus hasil wawancara mendalam dengan sejumlah pengurus dan anggota Nahdliyin.
"Desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU, dan aspirasi warga NU menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nakhoda baru di tubuh PBNU," tutur Wildan.
Nah, siapa saja mereka? Kalau dilihat dari klaster atau kelompok asalnya, ke-14 nama itu terbagi cukup beragam.
Dari internal pengurus besar NU atau PBNU sendiri, ada nama-nama seperti M Nuh, Yahya Cholil Staquf, lalu Syaifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa. Sementara dari jajaran Pengurus Wilayah NU (PWNU), muncul nama Abd Ghaffar Rozin, Abd Hakim Mahfudz, serta Juhadi Muhammad.
Tak ketinggalan, klaster yang diisi tokoh NU dan pesantren juga punya calon kuat. Di sana ada Imam Jazuli, Abdussalam Shohib, Yusuf Chudlori, dan Marzuqi Mustamar. Lalu, dari dunia politik dan pemerintahan, tiga nama yang mencuat adalah Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan KH Nasaruddin Umar.
Transisi kali ini, kata Wildan, bukan sekadar ganti pemimpin biasa. Ada tanggung jawab besar untuk memperbaiki tata kelola organisasi, menanggapi aspirasi yang menggelegak dari tingkat wilayah hingga cabang, juga dari warga kultural NU yang rupanya mendambakan perubahan.
Yang menarik, temuan Insantara soal mekanisme pemilihan juga cukup mencengangkan. Rupanya, hampir seluruh elemen menginginkan sistem Ahwa diterapkan sepenuhnya.
"Temuan menunjukkan 90% elemen NU menghendaki sistem Ahwa diterapkan penuh bagi Syuriyah (Rais Aam) dan Tanfidziyah (Ketua Umum) di Muktamar mendatang," ujarnya.
Artinya, pemilihan nanti bakal sangat berbeda. Bukan cuma soal siapa yang maju, tapi juga bagaimana cara memilihnya. Semuanya menunggu Juli atau Agustus nanti.
Artikel Terkait
Program Makan Bergizi Tetap Berjalan di Libur Lebaran dan Imlek dengan Skema Khusus
Jadwal Imsak dan Salat Ramadan 2026 untuk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Pemerintah Targetkan Selesai Tumpukan Sampah Bantar Gebang dan Bali pada 2027
SIG Salurkan 36.000 Bata Interlock untuk Huntap Pascabencana di Padang