Tak ketinggalan, klaster yang diisi tokoh NU dan pesantren juga punya calon kuat. Di sana ada Imam Jazuli, Abdussalam Shohib, Yusuf Chudlori, dan Marzuqi Mustamar. Lalu, dari dunia politik dan pemerintahan, tiga nama yang mencuat adalah Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan KH Nasaruddin Umar.
Transisi kali ini, kata Wildan, bukan sekadar ganti pemimpin biasa. Ada tanggung jawab besar untuk memperbaiki tata kelola organisasi, menanggapi aspirasi yang menggelegak dari tingkat wilayah hingga cabang, juga dari warga kultural NU yang rupanya mendambakan perubahan.
Yang menarik, temuan Insantara soal mekanisme pemilihan juga cukup mencengangkan. Rupanya, hampir seluruh elemen menginginkan sistem Ahwa diterapkan sepenuhnya.
"Temuan menunjukkan 90% elemen NU menghendaki sistem Ahwa diterapkan penuh bagi Syuriyah (Rais Aam) dan Tanfidziyah (Ketua Umum) di Muktamar mendatang," ujarnya.
Artinya, pemilihan nanti bakal sangat berbeda. Bukan cuma soal siapa yang maju, tapi juga bagaimana cara memilihnya. Semuanya menunggu Juli atau Agustus nanti.
Artikel Terkait
Rey Malawat Bantah Semua Tuduhan Istri dalam Kasus Pernikahan Sesama Jenis
TOBA Terbitkan Obligasi Rp175 Miliar untuk Modal Kerja di Tengah Transformasi
Kecelakaan Beruntun di Tol Jakarta-Tangerang Sebabkan Kepadatan Parah
Zelensky Setujui Gencatan Senjata Rusia untuk Paskah Ortodoks