"Pak Wapres menyoroti kurangnya guru di daerah pelosok-pelosok negeri," ujar Halim.
Oleh karena itu, pesan dari Gibran tegas. Program penguatan digital dan AI jangan sampai hanya terpusat di kota-kota besar atau pulau tertentu. Ia mengarahkan agar upaya ini wajib menjangkau daerah yang masih tertinggal.
"Kita enggak fokus hanya di pulau Sumatra, tapi Bapak Wakil Presiden mengarahkan, yaitu untuk bisa dan wajibnya untuk langsung turun ke daerah-daerah," jelas Halim.
Papua disebut sebagai salah satu contoh daerah yang masih sangat membutuhkan perhatian serius di bidang pendidikan. Menanggapi hal itu, Fumas sendiri mengaku telah menyiapkan sejumlah program kolaborasi dengan pemda. Tujuannya, mendukung literasi AI dan coding, bahkan hingga ke lingkungan pesantren.
"Yang sengaja kita bawa untuk pertemuan dengan Mas Gibran langsung, yaitu dengan mendukungnya perkembangan literasi AI, salah satunya, dan perkembangan coding. Itu sengaja kita support selalu dan siap berkolaborasi langsung dengan pemerintahan daerah," pungkasnya.
Jadi, narasinya bergeser. Bukan lagi sekadar bicara teknologi mutakhir, tapi bagaimana fondasi pendidikan yang kuat dan merata harus dibangun lebih dulu. Atau setidaknya, berjalan beriringan. Itulah titik tekan yang coba dibawa Gibran dalam pertemuan itu.
Artikel Terkait
Lima Lembaga Intelijen yang Membentuk Peta Kekuatan Global
TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus
Dolar AS Melemah Didorong Kabar Perundingan Damai Israel-Lebanon
Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA