“Kalau ada yang memprovokasi, ingatkan mereka bahwa saat ini kita ada di bulan Ramadan. Sehingga harapan saya seluruh keluarga besar PUI betul-betul bisa menjadi cooling system,” tegasnya.
Pergeseran Paradigma dalam Menangani Demonstrasi
Di bagian lain pidatonya, Kapolri juga menyentuh persoalan penyampaian aspirasi masyarakat melalui demonstrasi. Dengan menyebut beberapa peristiwa masa lalu seperti “Agustus kelabu” dan “Black September”, dia mengakui bahwa aksi unjuk rasa merupakan bentuk koreksi yang mungkin terjadi kembali di masa mendatang. Menyikapi hal ini, institusi yang dipimpinnya diklaim telah melakukan perubahan pendekatan secara mendasar.
“Karena kita juga menyadari bahwa masyarakat yang melaksanakan aksi demo adalah keluarga besar kita sehingga kemudian kita juga merubah paradigma yang tadinya menjaga kita ubah menjadi melayani dan dan kita melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih preventif dialog,” jelas Kapolri.
Pernyataan ini menegaskan komitmen untuk lebih mengedepankan dialog dan pelayanan, alih-alih sekadar pengawalan ketat. Perubahan paradigma tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang aspirasi yang lebih kondusif dan mencegah eskalasi yang tidak diinginkan, baik di bulan Ramadan maupun di waktu-waktu lainnya.
Artikel Terkait
BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan
Hizbullah Tolak Rencana Israel untuk Negosiasi Langsung dengan Lebanon
Megawati Terima Kunjungan Dubes Saudi, Bahas Hadiah Anggrek hingga Gelar Doktor Kehormatan
Pekerja Pabrik VKTR Apresiasi Kebijakan Percepatan Elektrifikasi Prabowo