AS Kerahkan Dua Kapal Induk ke Timur Tengah, Iran Balas dengan Latihan Rudal di Selat Hormuz

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 16:40 WIB
AS Kerahkan Dua Kapal Induk ke Timur Tengah, Iran Balas dengan Latihan Rudal di Selat Hormuz

Menanggapi pengerahan militer AS, Iran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC) menggelar latihan maritim di Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menjadi urat nadi transportasi minyak global. Latihan yang digelar pada Senin (16/02) itu menampilkan peluncuran rudal dari kapal perang.

Panglima IRGC, Letjen Mohammad Pakpour, terlihat memeriksa langsung kesiapan pasukan. Dalam laporan yang disiarkan media berafiliasi pemerintah, Pakpour juga terlihat berada di dalam helikopter yang mengudara di atas Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.

Selain latihan unilateral, Iran juga menunjukkan kerja sama militernya dengan kekuatan besar lain. Televisi pemerintah menyiarkan rekaman latihan gabungan dengan Rusia di Laut Oman pada Kamis (19/02), yang mencakup simulasi operasi penyelamatan kapal.

Analisis Pakar: Skala dan Daya Tahan yang Berbeda

Pakar intelijen militer Justin Crump memberikan perspektif mendalam mengenai eskalasi kali ini. Ia membandingkannya dengan dua operasi militer AS sebelumnya: penangkapan mantan presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari dan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran (Operasi Midnight Hammer) pada Juni 2025.

Menurut Crump, pengerahan kekuatan saat ini menunjukkan "kedalaman dan daya tahan yang lebih besar". Ia menjelaskan bahwa meski semua operasi tersebut melibatkan gugus tempur kapal induk, konteks ancaman yang dihadapi AS di Timur Tengah jauh lebih kompleks. Militer Iran dinilai memiliki kemampuan ofensif yang lebih credible untuk membalas serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan.

"Apa yang kita lihat bukan hanya persiapan serangan, melainkan pengerahan kekuatan yang lebih luas untuk tujuan pencegahan dan dapat diperbesar atau diperkecil sesuai kebutuhan," ungkap Crump.

Analisisnya menyimpulkan bahwa penumpukan kekuatan udara dan laut ini dirancang untuk menopang operasi berkepanjangan. Kombinasi kekuatan tersebut memungkinkan AS melakukan serangan dengan intensitas tinggi, sekaligus mengantisipasi berbagai kemungkinan respons dari Iran, termasuk yang menyasar sekutu-sekutu AS di kawasan.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar