Peran baru ini diwujudkan dengan penunjukan Indonesia sebagai wakil komandan dalam misi International Stabilization Force (ISF), yang akan melibatkan pengiriman ribuan personel pasukan perdamaian.
“Berarti untuk hal-hal giat kemanusiaan yang dilakukan oleh tentara-tentara tidak hanya Indonesia tapi banyak negara di sana, kita punya say atau komando yang cukup kuat,” katanya.
Pencapaian dalam forum internasional itu, menurut Meutya, membawa perasaan lega dan kebanggaan. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan kemajuan besar yang telah lama dinantikan.
“Saya rasa ini yang membuat kita kemarin cukup lega, bangga, melihat hasil dari pertemuan pertama BoP yang kemarin diselenggarakan di Amerika,” lanjut dia.
Meninggalkan Posisi Penonton
Meutya menekankan bahwa langkah strategis ini menandai pergeseran penting dalam politik luar negeri Indonesia. Negara ini, tuturnya, harus bergerak melampaui posisi sebagai pengamat pasif dalam isu-isu global yang menjadi perhatian konstitusi dan rakyatnya.
Dengan nada tegas, ia menyimpulkan bahwa momentum ini adalah lompatan yang tepat waktu dan diperlukan.
“It's a big step dan sudah saatnya,” tutup Meutya Hafid.
Artikel Terkait
Atap Jebol dan Cuaca Buruk Ganggu 12 Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta
Trump Kritik NATO dan Sekutu Asia, Sebut Kehadiran Militer AS Sebagai Pengorbanan
Wapres Gibran Tinjau Langsung Dampak Gempa M 7,6 di Sulawesi Utara
Jasa Raharja Tegaskan Etika dan Kepatuhan sebagai Fondasi Keberlanjutan Bisnis