Ramadan di Gaza Diwarnai Kelaparan dan Serangan Sporadis Meski Gencatan Senjata

- Kamis, 19 Februari 2026 | 13:00 WIB
Ramadan di Gaza Diwarnai Kelaparan dan Serangan Sporadis Meski Gencatan Senjata

MURIANETWORK.COM - Ramadan 1447 Hijriah dimulai di Gaza pada Rabu (18 Februari 2026) dalam bayang-bayang krisis kemanusiaan yang belum usai. Warga Palestina di wilayah tersebut terpaksa menjalani ibadah puasa di tengah kelangkaan makanan dan air bersih yang parah, sementara serangan sporadis masih terjadi meski ada kesepakatan gencatan senjata. Kontras terlihat jelas di Yerusalem Timur, di mana ribuan jamaah tetap memadati Masjid Al Aqsa meski dengan pengamanan ketat.

Puasa di Tengah Kelangkaan

Suasana sahur dan buka puasa di Gaza tahun ini jauh dari kemeriahan biasanya. Banyak keluarga berkumpul dengan piring yang hampir kosong, mengandalkan sedikit persediaan dari dapur umum atau bantuan yang distribusinya tidak menentu. Tradisi berkumpul dengan hidangan spesial Ramadan kini hanya menjadi kenangan, tergantikan oleh perjuangan harian untuk sekadar mendapat jatah makanan pokok.

Janji Bantuan yang Tak Sesuai Realita

Kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober lalu seharusnya membuka keran bantuan kemanusiaan secara signifikan. Rencananya, sekitar 600 truk bantuan diizinkan masuk ke Gaza setiap hari. Namun, di lapangan, jumlah truk yang benar-benar tiba dilaporkan jauh lebih sedikit dari angka yang dijanjikan. Kesenjangan antara kesepakatan dan implementasi ini memperpanjang penderitaan warga.

“Meja makan yang dulu penuh saat Ramadan sebelum perang, kini bergantung pada jadwal bantuan yang masuk ke wilayah tersebut,” ungkap sebuah laporan yang mengutip situasi di sana.

Ketegangan dan Korjiwa yang Terus Berjatuhan

Gencatan senjata ternyata tidak sepenuhnya menghentikan kekerasan. Laporan dari tanah Gaza menyebutkan bahwa serangan masih terjadi di beberapa titik, menewaskan ratusan orang sejak gencatan diberlakukan. Kondisi ini tidak hanya menambah trauma, tetapi juga membuat proses distribusi bantuan menjadi semakin rumit dan berbahaya, memperburuk situasi warga yang sedang berpuasa.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar