Harga cabai keriting di Jakarta belakangan ini melonjak. Penyebabnya, menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, sederhana: pasokan yang menipis.
Dia menjelaskan bahwa kiriman cabai dari sentra produksi, baik di Jawa maupun Sulawesi Selatan, jumlahnya berkurang drastis. Cuaca ekstrem menjadi biang keladinya. Hujan yang tak henti-henti disebutkan mengganggu proses produksi dan, yang tak kalah penting, menghambat distribusi barang sampai ke ibu kota.
"Memang terjadi kenaikan cabai keriting karena suplai dari Jawa maupun Sulawesi Selatan kuantitasnya mengalami penurunan karena hujan," kata Pramono saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Kamis lalu.
Meski situasinya sedang tidak ideal, Pramono tampak optimis. Dia meyakini kondisi ini tidak akan berlangsung lama.
"Saya yakin dalam satu-dua minggu ke depan harga cabai di Jakarta bisa normal kembali," ujarnya.
Namun begitu, pemerintah provinsi tidak hanya berdiam menunggu. Ada langkah konkret yang disiapkan untuk meredam gejolak harga di pasar. Strateginya, Pemprov DKI akan turun tangan langsung membeli cabai dari sumbernya.
Barang tersebut kemudian akan dijual kembali kepada pengecer atau pedagang di tingkat pasar. Yang menarik, dalam skema ini pemerintah hanya mengambil margin keuntungan yang sangat tipis.
"Kami akan membeli cabai kemudian menjual kepada pengecer atau pedagang, memberikan keuntungan Rp 5 ribu supaya harganya terkontrol. Kalau ini kita lakukan, saya yakin inflasi di Jakarta bisa kita kontrol," jelas Pramono.
Langkah ini diharapkan bisa menjadi buffer, penyangga agar harga eceran di tingkat konsumen akhir tidak terus meroket tak terkendali. Semua bermuara pada upaya menstabilkan inflasi, yang tentu saja dirasakan langsung oleh warga.
Artikel Terkait
Polsek Ciputat Timur Dirikan Tujuh Pos Pantau Antisipasi Kerawanan Ramadan
Kompolnas Awasi Sidang Etik Mantan Kapolres Bima Terkait Kasus Narkoba
Kemensos Salurkan Bansos Rp1,8 Triliun untuk Korban Banjir di Tiga Provinsi
Polres Metro Tangerang Kota Lakukan Rotasi Sejumlah Pejabat Utama