Meski berbagai keluhan telah disampaikan, warga merasa belum ada solusi konkret yang ditawarkan. Janji perbaikan kerap dikaitkan dengan waktu penyelesaian proyek yang belum pasti, meninggalkan rasa tidak pasti di tengah masyarakat.
"Katanya yang sabar dulu, nanti habis proyek selesai katanya mau dibenerin. Ya tapi kan nggak tahu ini proyek kapan beresnya," tutur Ida dengan nada pasrah.
Akibatnya, warga yang terpaksa melintas harus menanggung risiko tinggi. Jalan yang berlumpur itu telah memakan beberapa korban, mulai dari pengendara sepeda motor hingga kendaraan proyek itu sendiri.
"Yang naik motor ada beberapa yang jatuh, mobil nyoba lewat juga pada selip. Truk dia (dari proyek) sendiri aja pernah, patah as roda pas lewat sini," ungkapnya.
Upaya perbaikan darurat seperti penimbunan batu dan perataan dengan alat berat pernah dilakukan, namun hasilnya tidak bertahan lama. Kombinasi hujan dan terus melintasnya kendaraan berat membuat jalan kembali rusak dalam waktu singkat.
"Ini lubangnya udah berapa kali ditimbun batu, terus diratain pakai mesin yang gede itu. Tapi karena hujan, terus masih dilewatin truk-truk gede juga, akhirnya ya rusak lagi," keluhnya.
Dampak Ekonomi yang Terasa Langsung
Dampak paling nyata dari kondisi ini dirasakan oleh para pedagang kecil yang hidupnya bergantung pada kunjungan wisatawan. Sepinya pengunjung yang enggan melewati jalan rusak langsung memukul pendapatan mereka.
"Ya jadi sepi aja, kan jadi pada jarang lewat sini. Ya tapi kalau saya sih masih agak mendingan. Itu lurusan dari jalan yang rusak itu, di situ juga masih ada pedagang. Tiap hari tetep buka, tapi ya nggak ada yang beli," katanya menggambarkan dampak ekonomi yang meluas.
Di tengah segala kesulitan, harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka tidak menuntut perbaikan permanen yang muluk, melainkan tindakan nyata untuk membuat jalan tersebut dapat dilalui dengan aman, setidaknya untuk sementara waktu.
"Ya kalau bisa, sebulan ini dibenerin lah jalannya. Diratain dulu aja deh, biar nggak becek kayak gitu. Kami mah nggak muluk-muluk nuntut hak atau apa, nggak. Cukup diratain dulu aja jalannya, biar nggak kayak gitu. Kalau lagi hujan, bisa tambah parah soalnya. Dalam loh itu lubangnya," tutup Ida menyampaikan harapan terakhir warga setempat.
Artikel Terkait
BMKG Catat 111 Kali Gempa Guncang Jawa Barat Sepanjang Maret
Pertamina Tambah Pasokan Elpiji Subsidi Jelang Libur Panjang di Madiun Raya
Arema FC dan Malut United Bermain Imbang 1-1 di Kanjuruhan
Banjir Rendam Ribuan Rumah di Lima Kecamatan Grobogan