MURIANETWORK.COM - Proyek pengembangan kawasan wisata budaya Setu Babakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, justru menimbulkan persoalan baru. Jalan utama menuju lokasi sejak Oktober 2025 berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilintasi, diduga akibat lalu lintas kendaraan berat proyek. Kondisi ini telah menyebabkan kecelakaan dan mengancam mata pencaharian pedagang setempat yang mengeluhkan sepinya pengunjung.
Pantauan di lokasi pada Selasa (17/2/2026) memperlihatkan pemandangan yang memprihatinkan. Permukaan jalan didominasi gumpalan lumpur pekat berwarna cokelat, dengan genangan air keruh menyembunyikan lubang-lubang dalam. Pengendara yang mendekati area tersebut tampak ragu-ragu, banyak yang akhirnya memutar balik setelah mendapat peringatan dari warga.
Seorang pedagang di lokasi dengan sigap mengingatkan pengendara yang lajunya terpaksa berhenti.
"Putar balik aja, nggak bisa dilewatin," imbaunya.
Kerusakan yang Semakin Parah
Ida, salah satu pedagang di kawasan Setu Babakan, menjelaskan bahwa kerusakan jalan sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Menurut penuturannya, masalah ini semakin menjadi-jadi ketika musim hujan tiba.
"Sekitar bulan November. Sebenernya dari Oktober udah mulai rusak, tapi parahnya pas November, pas mulai hujan," ujar Ida saat ditemui di lapaknya.
Ia menduga, kondisi ini tak lepas dari mobilitas kendaraan proyek milik Pemprov DKI Jakarta yang hilir mudik mendukung pembangunan. Proyek yang bertujuan mempercantik fasilitas wisata, termasuk pembangunan zona kuliner, justru menjadi biang keladi kerusakan infrastruktur akses.
"Ya gitu, truk-truk molen kan pada lewat terus buat ke proyek," jelasnya mengenai penyebab kerusakan.
"Kalau yang kami denger sih katanya buat bangun zona kuliner gitu. Tapi saya juga kurang paham detailnya," tambah Ida.
Keluhan Warga dan Respons yang Minim
Meski berbagai keluhan telah disampaikan, warga merasa belum ada solusi konkret yang ditawarkan. Janji perbaikan kerap dikaitkan dengan waktu penyelesaian proyek yang belum pasti, meninggalkan rasa tidak pasti di tengah masyarakat.
"Katanya yang sabar dulu, nanti habis proyek selesai katanya mau dibenerin. Ya tapi kan nggak tahu ini proyek kapan beresnya," tutur Ida dengan nada pasrah.
Akibatnya, warga yang terpaksa melintas harus menanggung risiko tinggi. Jalan yang berlumpur itu telah memakan beberapa korban, mulai dari pengendara sepeda motor hingga kendaraan proyek itu sendiri.
"Yang naik motor ada beberapa yang jatuh, mobil nyoba lewat juga pada selip. Truk dia (dari proyek) sendiri aja pernah, patah as roda pas lewat sini," ungkapnya.
Upaya perbaikan darurat seperti penimbunan batu dan perataan dengan alat berat pernah dilakukan, namun hasilnya tidak bertahan lama. Kombinasi hujan dan terus melintasnya kendaraan berat membuat jalan kembali rusak dalam waktu singkat.
"Ini lubangnya udah berapa kali ditimbun batu, terus diratain pakai mesin yang gede itu. Tapi karena hujan, terus masih dilewatin truk-truk gede juga, akhirnya ya rusak lagi," keluhnya.
Dampak Ekonomi yang Terasa Langsung
Dampak paling nyata dari kondisi ini dirasakan oleh para pedagang kecil yang hidupnya bergantung pada kunjungan wisatawan. Sepinya pengunjung yang enggan melewati jalan rusak langsung memukul pendapatan mereka.
"Ya jadi sepi aja, kan jadi pada jarang lewat sini. Ya tapi kalau saya sih masih agak mendingan. Itu lurusan dari jalan yang rusak itu, di situ juga masih ada pedagang. Tiap hari tetep buka, tapi ya nggak ada yang beli," katanya menggambarkan dampak ekonomi yang meluas.
Di tengah segala kesulitan, harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka tidak menuntut perbaikan permanen yang muluk, melainkan tindakan nyata untuk membuat jalan tersebut dapat dilalui dengan aman, setidaknya untuk sementara waktu.
"Ya kalau bisa, sebulan ini dibenerin lah jalannya. Diratain dulu aja deh, biar nggak becek kayak gitu. Kami mah nggak muluk-muluk nuntut hak atau apa, nggak. Cukup diratain dulu aja jalannya, biar nggak kayak gitu. Kalau lagi hujan, bisa tambah parah soalnya. Dalam loh itu lubangnya," tutup Ida menyampaikan harapan terakhir warga setempat.
Artikel Terkait
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026, Berbeda dengan Muhammadiyah
Wisatawan Tewas Terseret Ombak di Pantai Sambolo Carita
Keluarga Muslim dari Purwokerto Sambangi Vihara di Petak Sembilan Saat Imlek
Festival Cian Cui di Meranti: Tradisi Perang Air Jadi Perekat Budaya dan Lingkungan