Budiyono menegaskan bahwa seluruh biaya perbaikan fasilitas sekolah yang rusak menjadi tanggung jawab penuh pemilik bangunan. Meski sempat ada rencana dari pemilik untuk merenovasi tembok setelah perayaan Imlek, kondisi tanah yang labil diduga menjadi penyebab utama keruntuhan yang terjadi lebih cepat dari perkiraan.
Proses penanganan di lapangan telah dimulai dengan langkah prioritas untuk mencegah dampak lanjutan, seperti genangan air. Tim terkait telah dikerahkan untuk membersihkan material reruntuhan yang menyumbat saluran air di sekitar lokasi.
"Pertama, langkahnya adalah pengerukan oleh SDA (Sumber Daya Air). Itu agar paritnya itu tidak mampet sehingga tidak terjadi banjir. Sekarang sedang berproses, pembersihan," ucap Budiyono.
Koordinasi Lintas Sektor dan Dukungan untuk Kegiatan Belajar
Untuk mengawal proses pemulihan, telah dilakukan koordinasi yang melibatkan berbagai pihak. Suku Dinas setempat, kepolisian sektor (Polsek), Babinsa, dan Satpol PP turut serta memastikan situasi tetap terkendali. Meski sempat ramai diperbincangkan di media sosial, Disdik DKI Jakarta berkomitmen untuk menjaga agar kegiatan belajar mengajar di SMPN 182 dapat berjalan se-kondusif mungkin. Upaya perbaikan fisik yang dipercepat diharapkan dapat meminimalkan gangguan terhadap proses pendidikan di sekolah tersebut.
Artikel Terkait
Lansia di Jepara Tewaskan Mantan Mertua Usai Bakar Korban dengan Pertalite
Banjir Demak Rendam 8 Desa, 2.839 Warga Mengungsi Akibat Tanggul Jebol
Iran Ancam Serang Pangkalan AS dan Sekutu di Teluk Jika Pasukan Tak Ditarik
Perwira Polisi di Jambi Didemosi Usai Kurir Sabu 58 Kg Kabur dari Ruang Penyidikan