“Kalau ayam ras kan banyak stoknya, kalau kurang stoknya otomatis naik harga Rp75 ribu. Kalau banyak barang dari Sidrap, tetap kita jual Rp65 ribu,” jelas Daeng Enal.
Untuk ayam potong, fluktuasi harganya lebih dipengaruhi oleh permintaan dalam skala besar, termasuk dari program-program pemerintah. Pedagang yang telah berpuluh-pahun berjualan ini menyoroti pengaruh permintaan dari program tertentu terhadap pasar.
“Kalau ayam potong, pemakaian MBG banyak, pasti di pasaran naik harga ayam potong. Tidak terlalu banyak pemakaian MBG, normal harganya,” katanya.
Penjualan Masih Sepi, Persiapan Menyambut Ramadan
Meski harga mulai naik, geliat transaksi di lapangan belum mengikuti. Aktivitas pembeli masih relatif rendah, sebuah pola yang menurut pengalaman para pedagang baru akan berubah saat Ramadan berjalan hampir setengah.
“Jelang Ramadan ini sepi pembeli, nanti pertengahan bulan Ramadan agak naik pembeli. Harga memang agak naik, yang kedua perputaran uang kurang,” ungkapnya.
Meski demikian, persiapan untuk menyambut peningkatan permintaan telah dilakukan. Daeng Enal menyiapkan modal sekitar Rp30 juta. Setiap hari, ia mendatangkan 50 ekor ayam kampung dan 100 ekor ayam potong, dengan stok khusus ayam potong yang dipersiapkan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan hari berikutnya.
Rata-rata penjualan ayam kampung saat ini masih sekitar 30 ekor per hari, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan saat puncak permintaan seperti pada momen Idul Adha. Perbandingan dengan ritel modern menunjukkan, harga ayam potong di minimarket sekitar Rp56 ribu per kilogram, selisih yang tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan harga di Pasar Terong setelah dikonversi per kilogram.
Artikel Terkait
Prabowo dan Presiden Korsel Berpose Finger Heart dengan Idol K-pop Indonesia di Istana
Komisi III DPR Tegaskan Putusan Bebas Videografer Amsal Sitepu Sudah Berkekuatan Hukum Tetap
Rumah di Cempaka Putih Dibobol Maling Saat Kosong, Laptop hingga Koleksi Topi Raib
MPL ID Season 17: RRQ Hoshi dan Alter Ego Berjuang Bangkit di Pekan Kedua