Suasana tegang menyelimuti Stadion Krida, Rembang, Rabu (21/2/2026) lalu. Di laga Liga 4 Jawa Tengah antara PSIR Rembang kontra Persikaba Blora, sebuah insiden keras mengubah jalannya pertandingan. Bukan gol yang jadi sorotan, melainkan sebuah tendangan brutal yang berakhir dengan pemain dilarikan ke rumah sakit.
Semuanya berawal dari situasi bola mati. Persikaba dapat tendangan bebas, bola melayang ke kotak penalti. Rizal Dimas Agesta, gelandang serang bernomor punggung 7, berusang menyambutnya. Di saat bersamaan, kiper PSIR, Raihan Alfariq, keluar untuk menghalau. Sayangnya, langkahnya salah. Kaki kiper itu terangkat terlalu tinggi dan menghantam keras dada Rizal.
Dampaknya langsung terlihat. Rizal terpelanting ke tanah, terkapar di area penalti. Dia sama sekali tak bisa bangun. Kondisinya tampak parah, memaksa tim medis buru-buru masuk lapangan. Suasana pun hening seketika.
Setelah pertolongan pertama, pemain bernomor 7 itu akhirnya digotong keluar. Ambulans kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Menurut kabar yang beredar, bekas tendangan di dadanya terlihat jelas dan mengkhawatirkan.
Merespons hal ini, manajemen Persikaba Blora tak tinggal diam. Mereka bersikap serius dan berencana melaporkan kejadian tersebut ke Komite Disiplin PSSI. Tujuannya jelas: agar kasus ini diproses sesuai aturan yang ada.
Rekaman kejadian itu, yang diunggah akun media sosial resmi Persikaba, dengan cepat viral. Videonya memang gamblang. Memperlihatkan kontak keras kaki sang kiper ke tubuh Rizal. Banyak yang geleng-geleng melihatnya.
Sejumlah saksi mata yang hadir di stadion punya pendapat serupa. Menurut mereka, ini murni kesalahan dari sebuah situasi standar. Bola mati yang berujung pada tindakan berbahaya di area paling rawan.
Yang jadi pertanyaan, wasit sama sekali tidak memberi hukuman apapun. Pertandingan justru dilanjutkan seperti tak terjadi apa-apa. Keputusan ini, tentu saja, menuai sorotan. Seolah keselamatan pemain diabaikan.
Laga sendiri akhirnya berakhir tanpa gol. Skor 0-0. Tapi hasil imbang itu jelas tenggelam oleh drama yang terjadi lebih awal.
Insiden di Rembang ini seakan mengingatkan kita pada kejadian serupa di Liga 4 Jawa Timur, awal Januari lalu. Saat itu, pemain Perseta Tulungagung, Firman Nugraha, menjadi korban tendangan 'kungfu' dari M Hilmi, pemain Putra Jaya Pasuruan.
Aksinya terekam jelas: tendangan tinggi ke dada Firman di dekat garis tengah. Wasit langsung memberi kartu merah untuk Hilmi.
Konsekuensinya pun jauh lebih berat. Komite Disiplin PSSI Jatim menjatuhkan sanksi seumur hidup untuk Hilmi. Putusan itu tertuang dalam dokumen resmi, menyatakan pelanggaran terhadap pasal-pasal berat tentang kekerasan.
Nah, dengan melihat dua kasus ini, sorotan terhadap aspek keselamatan pemain dan kualitas kepemimpinan wasit di kasta terbawah sepak bola kita semakin kuat. Sepertinya, ada pekerjaan rumah yang besar yang masih menunggu untuk diselesaikan.
Artikel Terkait
Indonesia Waspadai Jebakan Aljazair di Laga Perdana Piala Thomas 2026
Final Proliga 2026 Dimulai Hari Ini, Megawati Jadi Sorotan di Laga Pembuka Sektor Putri
Veda Ega Pratama Siap Tempur di Jerez, Targetkan Podium Balas Dendam Usai Insiden COTA
Persib Bandung Hadapi Arema FC di Laga Krusial GBLA, Incar Kemenangan Jaga Puncak Klasemen