Wartawan Senior Indonesia Resmi Bentuk Wadah Khusus untuk Usia 60 Tahun ke Atas

- Jumat, 17 April 2026 | 22:30 WIB
Wartawan Senior Indonesia Resmi Bentuk Wadah Khusus untuk Usia 60 Tahun ke Atas

Wadah Baru untuk Suara Sepuh Jurnalistik

Jakarta, Jumat malam – Sebuah ruang baru akhirnya terbuka untuk para pelaku jurnalistik yang telah berjasa puluhan tahun. Sekelompok wartawan senior secara resmi meluncurkan Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI). Wadah ini dibentuk untuk menghimpun potensi intelektual para jurnalis yang usianya sudah menginjak kepala enam, sebuah kelompok yang kerap merasa suaranya tak lagi terdengar.

“Masih banyak yang produktif, tulisannya bagus, pemikirannya tajam, tetapi merasa tidak pernah diperhitungkan,”

Itulah pengakuan Wahyu Muryadi, Ketua Umum SWSI, yang mencerminkan keresahan di kalangan mereka. Menurutnya, ada kekuatan besar yang selama ini belum terakomodasi dengan baik. Ia yakin, potensi itu perlu disatukan dan diberdayakan untuk kepentingan yang lebih luas. Dan upaya ini, katanya, tak harus selalu menunggu inisiatif negara. Bisa dimulai dari langkah kolektif para jurnalis itu sendiri.

Proses legalisasinya berjalan cepat. Kurang dari seminggu setelah pengajuan, Kementerian Hukum dan HAM melalui Ditjen AHU sudah memberikan pengesahan badan hukum. SWSI pun sah berdiri.

Ceritanya berawal dari pertemuan informal. Sekadar buka puasa bersama di kawasan Cikini, Jakarta. Obrolan santai itu rupanya merembet ke hal serius. Pertemuan pun berlanjut di beberapa tempat, membahas ide yang semakin konkret. Akhirnya, sejumlah anggota menyusun AD/ART dan mematangkan rencana deklarasi. Jadilah perkumpulan ini.

Di tahap awal, fokusnya sederhana: saling berbagi informasi dan kepedulian. Aksi nyatanya langsung terasa. Belum genap seminggu berdiri, kabar duka datang. Seorang rekan, Bob Iskandar, terbaring sakit dengan komplikasi ginjal, jantung, dan paru-paru yang membutuhkan biaya besar.

"Maka kami saweran," ungkap Wahyu. Itulah langkah pertama mereka. Selain itu, perhatian juga tertuju pada kondisi para senior yang kurang beruntung, baik secara ekonomi maupun kesehatan.

Soal keanggotaan, SWSI memang dibuat eksklusif. Syaratnya minimal berusia 60 tahun dengan track record panjang di dunia jurnalistik. Seleksi akan dilakukan untuk menjaga kredibilitas.

"Mohon maaf, ini perkumpulan terbatas, terbatas hanya untuk kaum sepuh yang sudah berusia 60 tahun ke atas," tegas Wahyu. Ia menegaskan, ini bukan perseroan terbatas, melainkan perkumpulan yang punya batasan usia jelas.

Dalam deklarasinya, Sekretaris Umum SWSI Budiman Tanuredjo membacakan sejumlah poin penting. Suaranya lantang menegaskan komitmen.

Pertama, tentang keyakinan bahwa kemerdekaan pers, berpendapat, dan berserikat adalah tiang demokrasi yang dijamin konstitusi.

"Dua, kami para wartawan senior Indonesia terpanggil untuk senantiasa memikul tanggung jawab moral dan melakukan kontrol sosial," ujarnya. Mereka, kata Budiman, wajib tunduk pada kebenaran dan keadilan, serta memastikan suara publik tetap terdengar.

Poin ketiga menekankan pemanfaatan pengalaman panjang dengan tetap menjaga integritas dan profesionalitas, agar menjadi kekuatan intelektual penting bagi bangsa.

Keempat, di tengah gempuran disrupsi informasi dan AI, mereka terpanggil untuk menyampaikan suara yang jujur, analisis tajam, serta pandangan yang objektif.

"Lima, kami terpanggil untuk membentuk wadah kebersamaan yang memberi ruang bagi pengalaman dan kebijaksanaan," lanjut Budiman. Tujuannya jelas: menjaga marwah jurnalistik dan memberi kontribusi pemikiran konstruktif bagi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.

"Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa... kami mendeklarasikan berdirinya Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI)," pungkasnya menutup deklarasi.

Di balik layar, ada sederet nama senior yang jadi pendiri. Di antaranya Abdullah Alamudi, Budiman Tanuredjo, Karni Ilyas, Suryopratomo, hingga Wahyu Muryadi sendiri. Mereka bersatu, membuktikan bahwa pensi dari redaksi bukan berarti pensi dari berkontribusi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar