Meski mendapat dukungan dari luar, ruang gerak penguatan rupiah diperkirakan akan terbatas. Analis mengingatkan bahwa sentimen domestik masih dibayangi sejumlah isu yang berpotensi memberikan tekanan.
"Penguatan diperkirakan terbatas mengingat sentimen domestik umumnya masih negatif," jelas Lukman.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain penurunan peringkat kredit Indonesia, tuntutan klasifikasi pasar terapung (float) dari penyedia indeks global MSCI, serta defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kehati-hatian di kalangan pelaku pasar.
Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Di sisi lain, pelemahan dolar AS juga dinilai tidak akan terlalu dalam. Kekuatan fundamental ekonomi AS masih terlihat dari data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) yang dirilis beberapa hari sebelumnya dan jauh melampaui proyeksi analis. Kondisi ini membuat dolar AS cenderung tetap resilien.
Dengan mempertimbangkan tarik-ulur antara sentimen positif global dan tantangan domestik, analis memproyeksikan pergerakan rupiah akan tetap berada dalam koridor yang cukup luas untuk beberapa waktu ke depan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS.
Artikel Terkait
Red Hat dan Google Cloud Pererat Integrasi untuk Modernisasi Aplikasi
Jalan Salib Katedral Jakarta: Para Pemain Rasakan Perjalanan Spiritual Mendalam
Mega Career Expo 2026 Kembali Digelar di Jakarta, Buka Ribuan Lowongan
Satu Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang