"Yang masih bisa kita hitung totalnya Rp 15.685.000," jelas Sunarti, seorang tetangga.
"Mulai pecahan lima ribu sampai seratus ribu. Kebanyakan pecahan seratus ribu, nilainya sekitar sepuluh juta."
Menurut penuturan Sunarti, Rasil biasa menyimpan uangnya dengan cara sederhana: dibungkus plastik, lalu dimasukkan ke dalam sebuah kaleng. Sayangnya, kaleng itu ditaruhnya di dapur, yang diduga menjadi titik awal kobaran api.
Kepala Desa Patampanua, Yusuf, menerangkan bahwa Rasil tinggal sendirian dan menghabiskan waktunya dengan bertani. Memang ada anak, tapi sudah punya keluarga sendiri.
Untungnya, api hanya melalap bagian dapur rumahnya. Pemerintah setempat, menurut Yusuf, sudah turun tangan memberikan bantuan untuk meringankan beban sang kakek. Namun, luka di hati Rasil, tentu butuh waktu lebih lama untuk sembuh.
Artikel Terkait
Komnas HAM Terima 12 Laporan Ancaman Usai Kasus Penyegelan Aktivis KontraS
UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Gempa M 7,6 Guncang Bitung, Picu Tsunami Kecil di Sembilan Titik
Kazakhstan Resmi Miliki Konstitusi Baru Usai Referendum Dukungan Mayoritas