Soal kehadiran pedagang kaki lima, Acong sebenarnya nggak sepenuhnya menolak. Baginya, PKL adalah bagian dari denyut nadi Glodok. Yang dia persoalkan adalah penataannya. “Saya nggak masalah dengan PKL, tapi harus ada tempat khusus. Jangan ambil hak pejalan kaki. Trotoar kan memang untuk orang jalan, masa dipakai jualan.”
Dia juga menyoroti bahaya lain: aktivitas masak-memasak di pinggir jalan. “Belum lagi dekat wajan penggorengan lah, yang bakar-bakar, itu bahaya buat yang lewat,” tambahnya.
Selain PKL, masalah parkir liar juga bikin dia geram. Banyak motor seenaknya naik ke trotoar, ditemani ‘juru parkir’ yang statusnya tidak jelas. “Harusnya ada tempat parkir resmi. Jujur, saya nggak suka lihatnya. Bikin semrawut aja.”
Harapannya cuma satu: pemerintah DKI mau menata ulang kawasan ini dengan serius. Bukan sekadar operasi semalam, tapi penanganan yang konsisten dan berkelanjutan.
“Semoga trotoar dikembalikan fungsinya. PKL ditata, parkir ditertibkan. Jangan cuma kadang difoto buat laporan, habis itu ditinggal. Biar pejalan kaki aman dan nyaman,” pungkas Acong.
Tanpa perbaikan yang berarti, nasib pejalan kaki di Glodok tampaknya akan tetap terpinggirkan berdesak-desakan di antara lapak dagang dan knalpot kendaraan.
Artikel Terkait
Indonesia Desak PBB Selidiki Kematian Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Kemnaker Tegaskan Aturan Kerja di Hari Libur dan Hak Upah Lembur Pekerja
Netanyahu Tegaskan Perang dengan Iran Berlanjut, Abaikan Sinyal Damai dari Teheran
UNTR Gelar Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun untuk Dukung Stabilitas Pasar