Andik Vermansah Sesali Tolak Tawaran DC United demi Gaji Besar di Malaysia

- Rabu, 01 April 2026 | 03:05 WIB
Andik Vermansah Sesali Tolak Tawaran DC United demi Gaji Besar di Malaysia

Penyesalan yang Tak Terlupakan dari Andik Vermansah

Nama Andik Vermansah dulu sempat jadi buah bibir. Di akhir dekade 2000-an hingga 2010-an, pemain dengan lari cepat dan gocekan mematikan itu digadang-gadang sebagai masa depan Timnas Indonesia. Popularitasnya bahkan meledak usai sebuah momen tak terlupakan: ia ditekel oleh legenda sepak bola dunia, David Beckham, dalam sebuah laga eksibisi di Jakarta. Saat itu, masa depannya terlihat begitu cerah.

Namun begitu, jalan karier ternyata tak selalu berjalan sesuai harapan. Kini, di usia 34 tahun, Andik justru punya satu penyesalan yang dalam. Penyesalan terbesarnya? Menolak tawaran untuk bermain di Amerika Serikat dan Jepang.

Memang, Andik termasuk yang berani merantau. Dia pernah membela klub Malaysia, Selangor, dari 2014 hingga 2017, lalu berpindah ke Kedah pada 2018. Tapi, pilihan ke Malaysia itulah yang kini ia sesali.

Dalam sebuah wawancara, Andik bercerita dengan jujur.

"Ada tawaran dari Malaysia. Terus sebenarnya juga ada dari Jepang dan Amerika. Tapi saya ambil dulu di Malaysia. Menyesal juga, terus terang, waktu itu saya kaget dapat uang banyak merasa sudah cukup, tapi saya enggak pikir panjang,"

Ungkapannya itu seperti mewakili rasa sesal banyak orang: tergiur oleh imbalan instan, tanpa mempertimbangkan prospek jangka panjang.

Lebih detail, Andik mengungkapkan bahwa saat itu ia mendapat tawaran konkret dari DC United, klub MLS Amerika Serikat. Menariknya, tawaran itu datang melalui Erick Thohir.

"Erick Thohir tanya saya dan agen saya, kata beliau pelatih DC United mau dengan saya, tapi tidak langsung tim utama,”

jelasnya.

Sayangnya, nilai gaji yang ditawarkan DC United saat itu hampir sama dengan yang ia terima dari Persebaya Surabaya. Di sisi lain, Selangor datang dengan penawaran yang jauh lebih menggiurkan: gaji dua kali lipat. Logika finansial jangka pendek pun menang.

"Habis itu saya lihat nilainya (gaji) sama dengan Persebaya, sedangkan Selangor kasih saya dua kali lipat, makanya saya pilih Selangor,"

tandas Andik.

Kini, ia pasti memikirkan bagaimana nasib kariernya seandainya dulu memilih tantangan di Amerika atau Jepang. Bisa jadi, jalannya akan berbeda. Bisa jadi, ia akan melesat lebih tinggi. Itulah penyesalan yang mungkin akan terus melekat: sebuah pilihan yang mengubah segalanya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar