PT United Tractors Tbk (UNTR) baru saja mengumumkan rencana besar. Mereka akan membeli kembali sahamnya sendiri, atau buyback, dengan nilai fantastis hingga Rp 2 triliun. Langkah ini bukan tanpa alasan. Di tengah pasar modal yang naik-turun, perusahaan ingin menjaga stabilitas harga saham dan tentu saja, meningkatkan nilai untuk para pemegang saham.
Pengumuman resmi rencana ini sudah disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen UNTR menjelaskan, aksi korporasi ini juga bentuk dukungan pada upaya pemerintah.
"Pelaksanaan pembelian kembali saham merupakan salah satu bentuk usaha perseroan untuk mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas dan keyakinan terhadap pasar modal Indonesia,"
begitu bunyi pernyataan mereka yang dirilis Selasa (31/3).
Nah, soal detailnya, nilai maksimal memang ditetapkan Rp 2 triliun. Tapi ada batasan jumlah. Saham yang dibeli tidak boleh lebih dari 20% modal ditempatkan dan disetor. Yang penting, setelah buyback, saham yang beredar di publik minimal harus tetap 7,5%.
Kapan rencana ini berjalan? Perusahaan memperkirakan proses akan berlangsung tiga bulan penuh, mulai 1 April hingga 30 Juni 2026. Dana sebesar itu dari mana? Jelas dari kas internal UNTR. Bukan dari utang atau hasil penerbitan saham baru.
Lalu, apa dampaknya bagi kesehatan perusahaan? Menurut manajemen, dampaknya tidak material. Operasional dan kondisi keuangan diyakini tetap kuat.
"Karena perseroan pada saat ini memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk melakukan dan membiayai seluruh kegiatan usaha, kegiatan pengembangan usaha, kegiatan operasional, serta pembelian kembali saham,"
tambah mereka dalam pengumuman tadi.
Mengintip laporan keuangan per akhir Desember 2025, posisi UNTR memang solid. Laba bersihnya mencapai Rp 15,2 triliun. Total asetnya Rp 177,6 triliun. Jika dana buyback Rp 2 triliun itu dipakai semua, aset diperkirakan sedikit menyusut jadi Rp 175,6 triliun. Ekuitas juga bakal turun dari Rp 103,1 triliun menjadi Rp 101,1 triliun.
Namun begitu, ada sisi menariknya. Justru laba bersih per saham (EPS) diproyeksikan naik, dari Rp 4.082 menjadi sekitar Rp 4.237. Perusahaan menilai perubahan angka-angka ini tidak signifikan bagi indikator keuangan mereka secara keseluruhan.
Setelah periode buyback usai, saham yang berhasil dibeli kembali akan disimpan sebagai saham treasuri. Nasib saham ini nanti? Bisa dialihkan lagi di masa depan jika diperlukan, misalnya saat perusahaan butuh tambahan modal, tentu dengan mengikuti aturan yang berlaku.
Pada akhirnya, harapan dari langkah ini jelas. Manajemen berharap ini jadi sinyal positif bagi investor tentang fundamental UNTR yang kuat. Di sisi lain, di tengah gejolak pasar yang kerap tak menentu, aksi ini diharapkan bisa jadi penyeimbang, membantu menjaga stabilitas harga saham di level yang wajar.
Artikel Terkait
AMPI Salurkan Daging Kurban ke Warga Jakarta, Wujud Kepedulian Sosial Pemuda
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sembilan Wilayah Jawa Tengah hingga Kamis Pagi
Polisi Ungkap Peran Empat Tersangka Narkoba di Hiburan Malam New Zone Medan, dari Penyedia hingga Pengawas Razia
Gereja Katolik di Mimika Hangus Terbakar akibat Lilin Tak Dipadamkan