Ismoyo juga menyoroti kondisi Lapangan Tangkulo. Menurut analisisnya, lapangan dengan satu sumur penemuan (discovery) saja belum optimal untuk menggenjot sektor hulu. Potensi sebesar 1 Tcf masih memerlukan sumur delineasi tambahan untuk memetakan besaran sumber daya dan batas reservoir secara lebih pasti.
"Artinya status resources di Tengkulo masih perlu tahapan lanjut untuk meminimalkan ketidakpastian reserves. Sulit menarik investasi besar kalau resources-nya dan GSA-nya masih tidak pasti," jelas mantan Sekjen IATMI itu.
Jarak dengan Target Lifting Minyak Nasional
Lebih jauh, Ismoyo memberikan penilaian realistis mengenai kontribusi proyek-proyek gas ini terhadap target nasional. Dia menilai kedua blok tersebut belum dapat secara langsung mendongkrak target lifting minyak mentah menjadi 1 juta barel per hari pada 2029, mengingat komoditas utamanya adalah gas.
"Kedua lapangan tersebut adalah gas, hanya ada sedikit kondensat. Ini hanya membantu menambah produksi lifting nasional, dan memperkecil laju penurunan produksi (decline rate) nasional," ungkapnya.
Untuk benar-benar mencapai target ambisius lifting minyak tersebut, dia berpendapat diperlukan setidaknya tiga proyek pengembangan besar sekelas Banyu Urip, yang didukung oleh kegiatan eksplorasi masif. Namun, realisasi dari upaya semacam itu, jika dimulai sekarang, baru akan terlihat dampak produksinya pada periode 2035 hingga 2040. Analisis ini menggarisbawahi perlunya langkah-langkah strategis yang lebih fundamental dan berjangka panjang, di samping percepatan proyek-proyek yang sedang berjalan.
Artikel Terkait
Menteri PAN-RB Tegaskan WFH Bukan Potong Jam Kerja, tapi Dorong Transformasi Digital
Timnas Futsal Indonesia Bidik Piala Dunia 2028/2032, AFF 2026 Jadi Batu Loncatan
Kebijakan WFH Jumat Berpotensi Hemat BBM hingga Rp 59 Triliun
Polisi Tangkap Dua WN Liberia Terkait Penipuan Dolar Hitam ke Pengusaha Korea di Jakarta Barat