MURIANETWORK.COM - Pemerintah menggenjot percepatan sejumlah proyek strategis minyak dan gas bumi (migas) tahun ini, termasuk proyek raksasa LNG Abadi di Blok Masela. Namun, langkah ini dinilai belum cukup memberikan sinyal positif bagi kebangkitan sektor hulu migas nasional. Analisis dari kalangan praktisi menyoroti bahwa ketidakpastian kontrak dan tahapan pengembangan yang masih panjang menjadi tantangan utama untuk segera merealisasikan target peningkatan produksi.
Proyek Strategis yang Digenjot
Fokus percepatan pemerintah saat ini tertuju pada beberapa proyek besar. Salah satu yang paling dinantikan adalah Proyek LNG Abadi di Blok Masela, yang digarap oleh Inpex Corporation. Groundbreaking proyek ini disebutkan akan segera dilakukan. Skala proyek ini cukup signifikan, dengan kapasitas produksi yang ditaksir mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun. Selain LNG, proyek ini juga diestimasi akan menghasilkan gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari serta kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
Di lokasi lain, SKK Migas juga menargetkan persetujuan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) untuk Lapangan Tangkulo-1 di Wilayah Kerja South Andaman dapat rampung pada Juni 2026. Lapangan ini menyimpan potensi gas sekitar 1 triliun kaki kubik, dengan total potensi di seluruh blok South Andaman yang diperkirakan bisa mencapai 11 triliun kaki kubik.
Analisis Praktisi: Antara Potensi dan Realita di Lapangan
Meski tampak menjanjikan di atas kertas, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang lebih kompleks. Praktisi migas Hadi Ismoyo menyatakan bahwa berjalannya proyek-proyek tersebut belum cukup menggerakkan sinyal positif bagi industri. Menurutnya, proses Blok Masela sudah berjalan sangat lama dan terkesan lamban.
"Bahkan kami juga belum mendengar GSA [Gas Sales Agreement] yang firmed dari proyek tersebut yang memuat tiga hal pokok, harga, volume dan time delivery. Saat ini baru sampai HoA [Head of Agreement]," tuturnya.
Ismoyo juga menyoroti kondisi Lapangan Tangkulo. Menurut analisisnya, lapangan dengan satu sumur penemuan (discovery) saja belum optimal untuk menggenjot sektor hulu. Potensi sebesar 1 Tcf masih memerlukan sumur delineasi tambahan untuk memetakan besaran sumber daya dan batas reservoir secara lebih pasti.
"Artinya status resources di Tengkulo masih perlu tahapan lanjut untuk meminimalkan ketidakpastian reserves. Sulit menarik investasi besar kalau resources-nya dan GSA-nya masih tidak pasti," jelas mantan Sekjen IATMI itu.
Jarak dengan Target Lifting Minyak Nasional
Lebih jauh, Ismoyo memberikan penilaian realistis mengenai kontribusi proyek-proyek gas ini terhadap target nasional. Dia menilai kedua blok tersebut belum dapat secara langsung mendongkrak target lifting minyak mentah menjadi 1 juta barel per hari pada 2029, mengingat komoditas utamanya adalah gas.
"Kedua lapangan tersebut adalah gas, hanya ada sedikit kondensat. Ini hanya membantu menambah produksi lifting nasional, dan memperkecil laju penurunan produksi (decline rate) nasional," ungkapnya.
Untuk benar-benar mencapai target ambisius lifting minyak tersebut, dia berpendapat diperlukan setidaknya tiga proyek pengembangan besar sekelas Banyu Urip, yang didukung oleh kegiatan eksplorasi masif. Namun, realisasi dari upaya semacam itu, jika dimulai sekarang, baru akan terlihat dampak produksinya pada periode 2035 hingga 2040. Analisis ini menggarisbawahi perlunya langkah-langkah strategis yang lebih fundamental dan berjangka panjang, di samping percepatan proyek-proyek yang sedang berjalan.
Artikel Terkait
Harga Cabai dan Bawang Merah Melonjak di Pasar Jepara Menyambut Ramadan
Intelijen Korsel Nilai Putri Kim Ju Ae Telah Ditetapkan sebagai Calon Penerus
Warga Siak Biarkan Gajah Sumatera Makan Pisang di Kebun, Kapolda Apresiasi
Anak SD di Medan Terseret 20 Meter Pertahankan Ponsel Ayah dari Pencuri, Pelaku Ditangkap di Riau