Dari Seoul, kabar penting datang dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Pemerintah, katanya, bakal menggeser anggaran belanja kementerian dan lembaga secara besar-besaran. Intinya? Mengalihkan dana dari hal-hal yang dianggap kurang prioritas ke sektor yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurut Airlangga, ruang untuk manuver fiskal ini ternyata cukup lapang. "Potensi prioritasisasi dan refocusing anggaran kementerian dan lembaga ini dalam range Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun," ungkapnya dalam konferensi pers di Korea Selatan, Selasa (31/3/2026) lalu. Angka yang fantastis, bukan main.
Nah, darimana saja potongan itu akan diambil? Sasaran utamanya adalah belanja operasional yang boros dan berdampak ekonomi rendah. Rinciannya, dari hal-hal seperti perjalanan dinas untuk rapat, belanja barang non-operasional, sampai acara-acara seremonial yang kerap menghabiskan anggaran.
"Pengalihan anggaran dilakukan dari belanja yang kurang prioritas... Ini menuju belanja yang lebih produktif dan berdampak langsung kepada masyarakat, termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Sumatera," jelas Airlangga.
Di sisi lain, langkah ini bukan cuma soal angka. Ia bagian dari gerakan lebih besar yang disebut "8 Butir Transformasi Budaya Kerja Nasional". Tujuannya ganda: mitigasi dampak gejolak global sekaligus menjaga ketahanan fiskal negara.
Artikel Terkait
Gus Ipul: 625 Ribu Peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran Kembali Diaktifkan
DKI Percepat Penataan Zebra Cross di Jalan Soepomo Usai Viral Gambar Pac-Man
Andik Vermansah Sesali Tolak Tawaran DC United demi Gaji Besar di Malaysia
Kasus Campak Anjlok 93%, Kemenkes Wajibkan Vaksinasi untuk Dokter Internsip