KNKT Soroti Komunikasi Terbatas antara Pusdal dan Masinis dalam Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur

- Kamis, 21 Mei 2026 | 20:10 WIB
KNKT Soroti Komunikasi Terbatas antara Pusdal dan Masinis dalam Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur

Komunikasi antara pusat kendali dan masinis menjadi sorotan utama dalam investigasi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengungkapkan bahwa instruksi untuk melakukan pengereman secara bertahap justru diberikan tanpa disertai informasi detail mengenai kondisi di lapangan.

Soerjanto menjelaskan, masinis Argo Bromo Anggrek telah melakukan pengereman sejak jarak 1.300 meter setelah menerima laporan adanya hambatan di depan. Namun, keterbatasan sistem komunikasi yang hanya mengandalkan suara membuat Pusat Pengendali (Pusdal) perjalanan kereta api di Manggarai tidak memiliki gambaran utuh tentang situasi di lokasi kejadian.

“Dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman. Cuma karena situasinya di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya, karena komunikasinya lewat suara saja, lewat voice, jadi kondisi lapangannya seperti apa dia tidak tahu,” ujar Soerjanto usai rapat kerja Komisi V DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).

Pusdal di Manggarai, menurut Soerjanto, hanya memberikan instruksi agar masinis mengurangi kecepatan secara bertahap dan membunyikan semboyan 35 atau klakson secara berulang. Masinis pun mengikuti arahan tersebut tanpa mengetahui secara pasti jenis bahaya yang mengadang di depannya.

“Cuma memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus, kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35. Nah itu aja yang disampaikan, sehingga masinis sudah melakukan merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai,” ungkapnya.

Soerjanto menambahkan, keputusan Pusdal untuk meminta pengereman bertahap didasari oleh asumsi positif bahwa pengurangan kecepatan dan peringatan suara sudah cukup untuk mengantisipasi situasi. Namun, ketiadaan data visual atau informasi yang lebih konkret membuat respons yang diberikan tidak optimal.

“Ya karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa mereka belum tahu, kondisi lapangan seperti apa. Maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan 35 atau memberi klakson lah,” tuturnya.

KNKT hingga saat ini masih terus mendalami faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap kecelakaan tersebut, termasuk sistem komunikasi dan prosedur tanggap darurat yang berlaku.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar