Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Antisipasi Data AS

- Rabu, 11 Februari 2026 | 16:45 WIB
Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Antisipasi Data AS

Peringatan ini dinilai memperpanjang ketegangan antara Washington dan Teheran, meski kedua belah pihak dilaporkan telah melakukan pembicaraan baru-baru ini. Ketidakpastian ini menciptakan kehati-hatian di pasar keuangan global, termasuk yang mempengaruhi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Fokus Beralih ke Data Ekonomi AS

Di sisi lain, perhatian pelaku pasar secara lebih luas mulai mengerucut pada serangkaian data ekonomi dari Amerika Serikat sebagai konsumen energi terbesar dunia. Data-data ini dinilai krusial untuk mengukur prospek permintaan minyak global sekaligus mengindikasikan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Investor menanti rilis data penggajian non-pertanian AS untuk Januari dan yang tak kalah penting, data inflasi Indeks Harga Konsumen. Kedua indikator ini menjadi penentu utama dalam proyeksi kenaikan atau penurunan suku bunga acuan AS.

"Data-data tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi prospek suku bunga AS, terutama di tengah perubahan kepemimpinan yang akan segera terjadi di Federal Reserve," papar Ibrahim Assuaibi lebih lanjut.

Dengan demikian, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan akan tetap sensitif terhadap dua faktor utama: dinamika geopolitik yang mempengaruhi sentimen risiko global dan sinyal kebijakan moneter dari negara maju, khususnya Amerika Serikat. Penguatan hari ini menunjukkan ketahanan rupiah meski dihadapkan pada berbagai ketidakpastian eksternal tersebut.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar