MURIANETWORK.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (11 Februari 2026), melanjutkan tren positif yang terlihat sejak pagi. Penguatan ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan antisipasi data ekonomi kunci dari AS yang akan mempengaruhi arah kebijakan moneter global.
Berdasarkan pantauan terhadap sejumlah sumber data keuangan, rupiah menguat tipis namun konsisten. Data Bloomberg mencatat penutupan rupiah di level Rp16.786 per USD, menguat 25 poin atau 0,15% dari posisi penutupan sebelumnya. Sementara itu, data dari Yahoo Finance menunjukkan posisi rupiah di Rp16.780 per USD, dengan penguatan 14 poin (0,08%).
Referensi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mengonfirmasi tren serupa, dengan rupiah berada di level Rp16.781 per USD, menunjukkan pergerakan naik dari posisi sebelumnya.
Sentimen Geopolitik Timur Tengah Waspadai Pasar
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah hari ini turut dipengaruhi oleh sentimen dari kawasan Timur Tengah. Peringatan dari Administrasi Maritim AS agar kapal-kapal berbenderanya menjauhi wilayah Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman kembali menyulut kekhawatiran.
"Badan tersebut menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap dekat dengan Oman selama penyeberangan, dengan alasan risiko diserbu oleh pasukan Iran," jelasnya.
Peringatan ini dinilai memperpanjang ketegangan antara Washington dan Teheran, meski kedua belah pihak dilaporkan telah melakukan pembicaraan baru-baru ini. Ketidakpastian ini menciptakan kehati-hatian di pasar keuangan global, termasuk yang mempengaruhi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Fokus Beralih ke Data Ekonomi AS
Di sisi lain, perhatian pelaku pasar secara lebih luas mulai mengerucut pada serangkaian data ekonomi dari Amerika Serikat sebagai konsumen energi terbesar dunia. Data-data ini dinilai krusial untuk mengukur prospek permintaan minyak global sekaligus mengindikasikan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Investor menanti rilis data penggajian non-pertanian AS untuk Januari dan yang tak kalah penting, data inflasi Indeks Harga Konsumen. Kedua indikator ini menjadi penentu utama dalam proyeksi kenaikan atau penurunan suku bunga acuan AS.
"Data-data tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi prospek suku bunga AS, terutama di tengah perubahan kepemimpinan yang akan segera terjadi di Federal Reserve," papar Ibrahim Assuaibi lebih lanjut.
Dengan demikian, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan akan tetap sensitif terhadap dua faktor utama: dinamika geopolitik yang mempengaruhi sentimen risiko global dan sinyal kebijakan moneter dari negara maju, khususnya Amerika Serikat. Penguatan hari ini menunjukkan ketahanan rupiah meski dihadapkan pada berbagai ketidakpastian eksternal tersebut.
Artikel Terkait
Pasangan di Bekasi Selatan Ditangkap Usai Menelantarkan Bayi yang Baru Lahir di Apartemen
Menteri KKP Bantah Pencairan Dana Kapal, Sebut Sumbernya Pinjaman Luar Negeri
Trump Secara Terbuka Tolak Rencana Aneksasi Tepi Barat oleh Israel
Polisi Amankan Kreator Konten dan Sita Kebun Ganja Semi-Hidroponik di Jagakarsa